Eks Gubernur BI: Inersia dan Produktivitas Lambat Bikin Ekonomi RI Sulit Tembus 5%
Sumber Foto: detikFinance
Ekonomi

Eks Gubernur BI: Inersia dan Produktivitas Lambat Bikin Ekonomi RI Sulit Tembus 5%

Jakarta -

Pertumbuhan ekonomi Indonesia konsisten bertahan di kisaran 5%. Hal ini kerap dipandang sebagai capaian positif, terutama di tengah ketidakpastian dan tekanan global.

Namun, muncul pertanyaan mengapa laju pertumbuhan tersebut sulit menembus level yang lebih tinggi. Di satu sisi, Indonesia berhasil menjaga stabilitas makroekonomi, mengendalikan inflasi, serta mempertahankan kondisi politik yang relatif kondusif.

Menurut Board of Advisors Prasasti Center for Policy Studies (Prasasti), Burhanuddin Abdullah mengatakan, stabilitas tersebut belum cukup mendorong adanya pertumbuhan. Pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dibutuhkan agar Indonesia dapat keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah atau middle income trap.

"Dan selama ini Indonesia terbukti konsisten menjaga pertumbuhan di kisaran 5% yang jelas tidak cukup untuk mengejar cita-cita tadi. Pertanyaannya sederhana, mengapa ekonomi kita seolah bertahan di titik itu, di level itu?" ujarnya dalam Prasasti Economic Forum 2026 di The Ritz-Carlton Pacific Place, Jakarta, Kamis (29/1/2026).

Salah satu faktor yang menahan laju pertumbuhan adalah kecenderungan perekonomian bergerak dalam pola lama atau inersia. Ekonomi dinilai berada dalam kondisi seimbang, tetapi minim dorongan kuat untuk melakukan lompatan melalui kebijakan yang lebih berani.

"Inersia adalah kecenderungan alami suatu benda untuk mempertahankan keadaannya baik tetap diam, maupun bergerak pada kecepatan tertentu. Inersia hanya dapat diubah apabila ada daya dorong lain yang cukup kuat untuk mengubah arah dan kecepatannya," bebernya.

Menurut Eks Gubernur Bank Indonesia (BI) itu, akibatnya Indonesia menjadi pandai bertahan tetap kurang terlatih untuk melakukan lompatan. Pertumbuhan ekonomi selama ini juga masih bertumpu pada penambahan tenaga kerja dan modal.

Pola ini mampu menjaga pertumbuhan tetap stabil, namun tidak cukup kuat untuk mendorong peningkatan yang berkelanjutan tanpa dukungan produktivitas. Di sisi lain, peningkatan produktivitas berjalan relatif lambat.

Pemanfaatan teknologi, inovasi, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia belum memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Struktur perekonomian yang masih didominasi oleh usaha mikro juga menjadi tantangan. Skala usaha yang kecil membatasi kemampuan pelaku usaha untuk mengadopsi teknologi dan meningkatkan efisiensi produksi.

Selain itu, budaya menghindari risiko di berbagai lembaga publik turut memperlambat reformasi. Sistem insentif dinilai lebih menekankan kepatuhan dibandingkan hasil, serta cenderung menghukum kegagalan alih-alih mendorong inovasi.

"Lalu adanya budaya menghindari risiko. Kita cari aman di banyak lembaga publik kita. Hal ini berkaitan dengan sistem insentif yang cenderung menghukum kegagalan daripada menghargai inovasi.

Lebih menekankan kepatuhan dibandingkan hasil, serta menghindari risiko masa depan yang sarat ketidakpastian. Budaya ini membuat reformasi struktural berjalan lambat dan perubahan menjadi hampir mustahil," terang dia.

Kombinasi faktor-faktor tersebut membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia cenderung bertahan di kisaran 5%. Tanpa dorongan baru yang mampu meningkatkan produktivitas dan mempercepat reformasi struktural, laju pertumbuhan berisiko tetap berjalan di tempat.

(acd/acd)