Jadwal Pementasan Ondel-ondel di Ruang Publik pada Rangkaian HUT Jakarta 2022
Sumber Foto: KONTAN
Jadwal Publik

Jadwal Pementasan Ondel-ondel di Ruang Publik pada Rangkaian HUT Jakarta 2022

Hari Ulang Tahun (HUT) Jakarta ke-495 diperingati pada Rabu, 22 Juni 2022. Pada perayaan tahun ini, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mengusung tema “Jakarta Hajatan” dengan slogan “Celebrate Jakarta: Kolabotasi, Akselerasi, dan Elevasi”.

Dalam rangkaian kegiatan HUT Jakarta 2022, Pemprov DKI Jakarta menggelar pementasan kesenian khas Betawi, ondel-ondel, di sejumlah ruang publik. Berikut jadwal pementasan yang diumumkan melalui akun Instagram resmi DKI Jakarta.

Jadwal pementasan ondel-ondel di ruang-ruang publik

  • Kota Tua
    18, 19, 25, 26 Juni 2022 (13.00–18.00 WIB)
  • Baywalk Mall Pluit
    19 Juni 2022 (13.00–18.00 WIB)
  • Taman Ismail Marzuki
    21, 22, 23 Juni 2022 (10.00 WIB)
  • AEON Mall JGC
    25 dan 26 Juni 2022 (16.00–18.00 WIB dan 19.00–22.00 WIB)
  • Kota Kasablanka
    18, 19, 25, 26 Juni 2022 (13.00–14.00 WIB)
  • Pekan Raya Jakarta
    21 dan 22 Juni 2022 (16.00 WIB dan 19.00 WIB)
  • Perkampungan Budaya Betawi
    20, 21, 22, 26 Juni 2022
  • Kawasan Pecinan
    26 Juni 2022 (14.00–18.00 WIB)

Sejarah singkat dan ciri ondel-ondel

Ondel-ondel dikenal sebagai boneka besar yang menyerupai manusia dengan ekspresi wajah tersenyum. Ondel-ondel laki-laki umumnya berwarna merah yang melambangkan semangat dan keberanian, sedangkan ondel-ondel perempuan berwarna putih yang menandakan kebaikan dan kesucian.

Tinggi ondel-ondel sekitar 2,5 meter dengan lebar sekitar 80 sentimeter. Boneka ini dibuat dari anyaman bambu agar ringan saat dipikul oleh pemerannya. Pada bagian kepala, bentuknya menyerupai topeng yang diberi ijuk sebagai rambut. Dalam pertunjukan rakyat Betawi, ondel-ondel menyimbolkan leluhur yang diyakini senantiasa menjaga anak cucunya atau penduduk suatu desa.

Dalam uraian lain, ondel-ondel disebut sebagai tokoh yang dihilangkan pada Sendratari Reog versi Wengker dari Ponorogo. Tokoh tersebut digambarkan sebagai sepasang makhluk halus bertubuh raksasa yang mengganggu perjalanan Singo Barong, lalu dikutuk menjadi burung gagak dan burung merak dalam wujud raksasa. Pada masa pemerintahan Batara Katong, tokoh-tokoh yang dianggap tidak terlalu penting kemudian dihilangkan.

Di sejumlah daerah, tokoh serupa dikenal dengan sebutan berbeda: pada kesenian Jathilan Jawa Tengah disebut gendruwon gede, di Pasundan dikenal sebagai Badawang yang disebut telah ada sejak paska Perang Bubat, sementara di Bali dikenal Barong Landung, yang disebut merupakan jenis Barong Bali yang dibawa Raja Airlangga saat menyelamatkan diri.