Prediksi Meledaknya Populasi Robot AI di Masa Depan
Agenda Nasional - KOMPAS.com - Robot berbasis kecerdasan buatan (AI) diperkirakan akan melampaui jumlah populasi pekerja manusia dalam beberapa dekade ke depan.
Musababnya adalah semakin banyak perusahaan yang diperkirakan akan mengadopsi agen AI demi menekan biaya operasional.
Peringatan itu disampaikan Rob Garlick, mantan Head of Innovation, Technology, and Future of Work di Citi Global Insights, dalam sebuah wawancara bersama CNBC.
Garlick mengatakan sistem kepemimpinan bisnis saat ini sangat menekankan profitabilitas.
“Kita memiliki sistem kepemimpinan dalam konteks ekonomi dan bisnis yang menjunjung profitabilitas,” ujar Garlick.
Ia menilai dorongan mengejar keuntungan yang berpadu dengan kemajuan teknologi akan memicu perubahan besar di pasar tenaga kerja.
“Ketika Anda menggabungkan profitabilitas dengan kemajuan teknologi, kita akan menghadapi perubahan terbesar dalam sejarah, yakni kecerdasan buatan akan mampu melakukan semakin banyak hal, dengan kualitas semakin baik, dan biaya semakin murah, sehingga dapat menggantikan manusia,” katanya.
Garlick, yang baru menerbitkan buku “AI – Anarchy or Abundance? Why the Future of Work Needs Pro-Human Leaders,” menyebut risetnya saat di Citi menunjukkan jumlah robot AI akan melonjak akibat keputusan bisnis tersebut.
“Dalam beberapa dekade ke depan, jumlah robot yang bergerak akan melampaui populasi pekerja. Lalu ditambah dengan agen-agen kecil berbasis AI, jumlahnya akan meledak,” imbuhnya.
Laporan Citi 2024 yang dipimpin Garlick memperkirakan jumlah robot AI, mulai dari humanoid, robot pembersih rumah tangga, hingga kendaraan otonom, akan mencapai 1,3 miliar unit pada 2035. Jumlah itu diproyeksikan meningkat menjadi lebih dari 4 miliar unit pada 2050.
Laporan tersebut juga menghitung waktu yang dibutuhkan robot untuk mencapai titik impas dari penghematan biaya tenaga kerja.
Misalnya, robot yang memiliki harga 15.000 dollar AS (sekitar Rp 252 juta), diperkirakan bisa balik modal dalam 3,8 minggu jika menggantikan pekerjaan dengan upah 41 dollar AS (sekitar 688.000) per jam, atau 21,6 minggu untuk pekerjaan dengan upah 7,25 dollar AS (sekitar Rp 121.000) per jam.
Sementara itu, robot seharga 35.000 dollar AS (sekitar Rp 587,7 juta) memiliki periode pengembalian 8,9 minggu untuk pekerjaan dengan upah 41 dollar AS per jam.
“Sekarang pun Anda sudah bisa membeli humanoid yang periode balik modalnya dibanding pekerja manusia kurang dari 10 minggu,” kata Garlick kepada CNBC, mengutip data dari bukunya.
“Manusia tidak bisa bersaing dengan skema seperti ini,” ujarnya.




