Bijak Bermedia Sosial: Puasa Lisan di Bulan Ramadan
Agenda Nasional - RRI. CO.ID, Ende – Program Dialog Ramadan kembali hadir menyapa pendengar, Kamis 26 Februari 2026. Topik yang diangkat tentang puasa lisan di era digital. Siaran ini disiarkan langsung melalui Pro 1 RRI Ende.
Dialog tersebut menghadirkan Abdul Aziz Yasin, Penyuluh Agama Islam Kemenag Ende. Ia membahas pentingnya menjaga kata di media sosial selama Ramadan. Menurutnya, tantangan menjaga lisan kini semakin kompleks.
Abdul Aziz menjelaskan puasa lisan berarti menahan ucapan buruk dan menyakiti. Ia mengatakan puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga. Namun, puasa juga melatih pengendalian diri dalam berbicara.
“Puasa lisan adalah bagian dari hakikat puasa itu sendiri,” katanya. Ia menegaskan tujuan puasa adalah membentuk ketakwaan. Pengendalian diri menjadi inti dari ibadah Ramadan.
Ia mengutip firman Allah tentang perintah berpuasa agar bertakwa. Menurutnya, takwa tercermin dari sikap dan ucapan sehari-hari. “Menahan lisan dari dosa merupakan inti puasa,” ujarnya.
Abdul Aziz juga mengingatkan sabda Rasul tentang bahaya dusta saat berpuasa. Ia menyebut banyak orang berpuasa tetapi lalai menjaga ucapan. “Allah tidak butuh lapar dan dahaga tanpa menjaga lisan,” ungkapnya.
Menurutnya, di era digital, lisan tidak hanya berupa ucapan langsung. Komentar, unggahan, dan pesan singkat termasuk bagian dari lisan. Semua itu tetap tercatat dan berdampak luas.
Ia mencontohkan gibah dan fitnah sering muncul di media sosial. Bahkan satu unggahan dapat tersebar dalam waktu singkat. Dampaknya bisa merusak persaudaraan dan menimbulkan dosa.
“Setiap kata akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah,” katanya. Ia menambahkan jejak digital sulit dihapus sepenuhnya. Karena itu, pengguna media sosial harus berhati-hati.
Abdul Aziz mengimbau generasi muda bijak bermedia sosial. Ramadan, ujarnya, menjadi momentum melatih kesabaran dan pengendalian emosi. Ia mengajak masyarakat menyaring informasi sebelum membagikan.
“Jika tidak benar dan tidak bermanfaat, lebih baik diam,” ungkapnya. Ia menekankan pentingnya tabayyun sebelum menyebarkan kabar. Menurutnya, diam dapat menjadi bentuk ibadah.
Menutup dialog, ia berharap Ramadan menjadi latihan menjaga hati dan jari. Ia mengajak pendengar menjadikan media sosial sebagai ladang kebaikan. Dengan demikian, puasa tidak hanya sah tetapi juga berkualitas.




