Infantino Serukan Pemikiran Fleksibel Dalam Penjadwalan Piala Dunia
Presiden FIFA, Gianni Infantino, mengajak dunia sepak bola untuk berpikir lebih fleksibel dalam penataan jadwal Piala Dunia di masa depan. Dalam pernyataan yang disampaikan di Majelis Umum Klub Sepak Bola Eropa (ECA) di Roma pada Kamis (3/10), Infantino menyoroti tantangan yang dihadapi akibat perubahan iklim dan perbedaan geografis yang mengharuskan penjadwalan global tidak lagi seragam pada satu waktu.
Infantino menyatakan, 'Jika Anda ingin bermain pada waktu yang sama di mana-mana, maka Anda bisa bermain di bulan Maret atau Oktober. Karena di bulan Desember, kita tidak bisa bermain di satu belahan dunia, dan di bulan Juli, tidak bisa di belahan lainnya. Jadi, kita harus berpikiran terbuka.'
Perubahan jadwal ini menjadi penting setelah FIFA memindahkan Piala Dunia 2022 di Qatar ke bulan November-Desember untuk menghindari suhu ekstrem di Timur Tengah. Dengan Arab Saudi sebagai tuan rumah Piala Dunia 2034, wacana tentang penjadwalan yang lebih fleksibel kembali muncul.
Infantino juga menekankan bahwa diskusi FIFA bukan hanya berkisar pada Piala Dunia 2034, tetapi merupakan bagian dari refleksi jangka panjang terhadap kalender internasional yang berlaku hingga 2030. Ia menambahkan, 'Bahkan di Eropa, bermain pada Juli bisa sangat panas. Mungkin kita harus berpikir ulang kapan waktu terbaik untuk bermain sepak bola dunia.'
FIFA saat ini sedang mendiskusikan detail teknis penjadwalan, dengan tujuan untuk mengoptimalkan kalender global sambil tetap memperhatikan kesejahteraan pemain dan klub. Selain itu, Infantino juga membahas keberhasilan Piala Dunia Antarklub yang baru diperluas menjadi 32 tim di Amerika Serikat. Ia menyebut turnamen tersebut sebagai kesuksesan besar dari segi penonton, pendapatan, dan dampak global.
FIFA kini mempertimbangkan perluasan Piala Dunia Antarklub menjadi 48 tim pada edisi 2029. Namun, rencana ini menuai kritik dari serikat pemain dan liga domestik yang merasa FIFA terlalu menekan kalender yang sudah padat. Meski demikian, FIFA berpendapat bahwa langkah ini memberikan kesempatan lebih luas bagi klub dari berbagai benua.
Pernyataan Infantino mencerminkan realitas baru dalam sepak bola modern, di mana iklim, ekonomi, dan politik kini menjadi faktor penting selain taktik dan tradisi. Wacana penjadwalan yang lebih fleksibel bukan hanya sebagai respons terhadap cuaca, tetapi juga sebagai upaya untuk menata ulang ritme sepak bola dunia agar tetap relevan di tengah perubahan global.
Namun, pertanyaan yang muncul adalah apakah sepak bola siap untuk meninggalkan kalender yang telah menjadi bagian dari sejarahnya selama hampir seabad. Yang pasti, FIFA sedang membuka pintu bagi era baru, di mana musim panas bukan lagi satu-satunya waktu untuk Piala Dunia dan kompromi global menjadi bagian dari permainan itu sendiri.




