Ngabuburit Sehat: Ngabubu-READ dan Ngabubu-RIDE di Ramadan
Sumber Foto: Kompasiana.com
Lifestyle

Ngabuburit Sehat: Ngabubu-READ dan Ngabubu-RIDE di Ramadan

Agenda Nasional - Senja mulai turun perlahan di ufuk barat. Langit berwarna jingga keemasan, angin berembus lembut, dan aroma takjil dari dapur-dapur rumah mulai menguar. Namun di sebuah taman kota, pemandangannya sedikit berbeda. Beberapa orang duduk melingkar, membawa buku, jurnal, bahkan kitab klasik. Mereka menyebut kegiatan ini dengan istilah baru yang terasa segar, NGABUBU-READ.

Fenomena NGABUBU-READ lahir dari kegelisahan kecil. Mengapa waktu menunggu berbuka sering habis oleh gawai, obrolan kosong, atau sekadar scrolling tanpa makna? Momentum Ramadan sesungguhnya sebagai ruang edukasi sunyi. Membaca di waktu senja bukan hanya aktivitas intelektual, tetapi juga bentuk ibadah kultural. Menghidupkan tradisi iqra' dalam konteks kekinian.

Di salah satu sudut kota, saya menyaksikan sekelompok mahasiswa dan keluarga muda menggelar tikar sederhana. Buku-buku tentang spiritualitas, lingkungan hidup, ekonomi syariah, hingga novel reflektif tersusun rapi. Seorang ibu membacakan cerita anak bertema akhlak kepada balitanya, sementara di sampingnya sang ayah mencatat poin penting dari buku pengembangan diri. Suasana hening, tetapi hidup.

NGABUBU-READ menjadi ruang literasi sosial. Tidak ada panggung formal, tidak ada jarak hierarkis. Setiap orang bisa berbagi ringkasan buku yang ia baca dalam lima menit menjelang adzan. Ada yang mengulas pemikiran tokoh peradaban, ada yang berbagi insight tentang pola hidup berkelanjutan, ada pula yang sekadar membacakan puisi. Ramadan terasa menjadi madrasah terbuka.

Di antara halaman yang dibaca dan pedal yang dikayuh, ada keseimbangan hidup yang sering kita lupa. Ngabuburit bukan sekadar jeda waktu, melainkan ruang belajar dan bergerak. Jadikan senja Ramadan sebagai titik temu literasi, keluarga, komunitas, dan gaya hidup ramah lingkungan.

Hal yang menarik, kegiatan ini tak hanya bersifat spiritual, tetapi juga ekologis. Banyak komunitas membawa tumbler sendiri, mengurangi sampah plastik, dan memanfaatkan ruang terbuka hijau sebagai ruang belajar. Ngabuburit tak lagi identik dengan pusat perbelanjaan, melainkan kembali ke ruang publik yang ramah bumi. Literasi dan lingkungan berpadu tanpa slogan berlebihan.

Namun kisah tidak berhenti di situ. Ketika akhir pekan tiba, suasana berubah dinamis. Buku-buku tetap hadir, tetapi sepeda mulai dikeluarkan. Kegiatan ini berkembang menjadi NGABUBU-RIDE. Perpaduan refleksi dan gerak, antara pikiran dan otot.

Saya mengikuti satu rombongan keluarga yang memulai rute dari kawasan permukiman, melintasi jalur sepeda kota, lalu berakhir di taman tempat kajian ringan digelar. Anak-anak bersepeda kecil dengan helm warna-warni, orang tua mengayuh santai, sesekali berhenti untuk minum dan berbagi cerita tentang buku yang sedang mereka baca. Sepeda menjadi jembatan percakapan lintas generasi.

NGABUBU-RIDE bukan sekadar olahraga. Ia adalah simbol gaya hidup rendah emisi, sehat, dan kolektif. Dalam konteks kota yang padat dan polutif, bersepeda jelang berbuka adalah pernyataan sunyi bahwa kesehatan dan keberlanjutan bisa berjalan beriringan. Tubuh bergerak, hati bersyukur, pikiran tetap terisi.

Keseimbangan inilah yang menjadi ruh gerakan ini. NGABUBU-READ menajamkan akal dan memperkaya jiwa. NGABUBU-RIDE menguatkan raga dan mempererat relasi sosial. Keduanya membentuk ekosistem ngabuburit yang utuh: kontemplatif sekaligus aktif, individual sekaligus komunal.

Ramadan bukan hanya menahan lapar, tetapi momentum menumbuhkan diri. Saat tangan menggenggam buku dan kaki mengayuh sepeda, kita sedang merawat akal, menyehatkan tubuh, sekaligus menjaga bumi. NGABUBU-READ dan NGABUBU-RIDE adalah bukti bahwa ibadah bisa cerdas, aktif, dan berkelanjutan.