Pameran Kriya Internasional 'Becoming' Hadirkan 79 Karya dari 8 Negara di Ubud
Agenda Nasional - GIANYAR, NusaBali.com - Institut Seni Indonesia (ISI) Bali bekerja sama dengan Agung Rai Museum of Art (ARMA) menggelar pameran kriya internasional bertajuk ‘Becoming: Prakriti–Pustaka-Padma’ di ARMA, Ubud, Gianyar. Pameran yang menjadi bagian dari peringatan HUT ke-30 ARMA ini dibuka oleh Rektor ISI Bali, Prof Dr I Wayan ‘Kun’ Adnyana, Minggu (5/7), dan berlangsung hingga 18 Juli 2026.
Ketua Panitia Pameran, Prof Dr Wayan Suardana, mengatakan pameran ini diikuti 50 seniman dari delapan negara, yaitu Indonesia, Amerika Serikat, Belanda, Jerman, Swiss, India, Kenya, dan Iran. Sebanyak 79 karya seni dua dimensi dan tiga dimensi dipamerkan, terdiri atas 28 patung keramik, sembilan guci keramik, enam karya terakota, enam karya wastra, enam karya mixed media, empat karya kriya logam, empat tapestri, empat instalasi, tiga keris, tiga batik seni, dua kriya kayu, dan satu wayang kulit.
Selain seniman mancanegara, pameran ini juga melibatkan dosen dan praktisi seni dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, seperti ISI Yogyakarta, ISI Surakarta, ISBI Bandung, dan Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Pameran ini dikuratori oleh Jean Couteau, Wayan Seriyoga Parta, dan Warih Wisatsana.
Dalam sambutannya, Rektor ISI Bali, Prof Dr I Wayan ‘Kun’ Adnyana mengapresiasi Program Studi Kriya ISI Bali yang menjadi penggerak utama penyelenggaraan pameran tersebut. Menurutnya, seni kriya tidak lagi layak dipandang sebagai kerajinan massal atau ‘seni kelas dua’, tetapi sebagai hasil karya yang lahir dari perjalanan panjang peradaban manusia.
“Seni kriya sejatinya merupakan hasil olah cipta yang lahir dari perjalanan panjang peradaban manusia. Dari alam lahir kreativitas, melalui ilmu karya dimatangkan, dan melalui keindahan nilai budaya diwariskan kepada generasi mendatang,” tegasnya dalam keterangan yang diterima NusaBali, Senin (6/7).
Prof Kun Adnyana juga menjelaskan makna tema pameran. Prakriti melambangkan alam sebagai sumber inspirasi dan bahan berkarya. Pustaka menggambarkan kreativitas yang tumbuh dari tradisi intelektual dan dialog budaya. Sementara Padma menjadi simbol pencapaian nilai estetika yang tinggi, sekaligus memiliki makna spiritual dan fungsional.
Sementara itu, Pendiri ARMA, Anak Agung Gde Rai, mengatakan tajuk ‘Becoming’ mencerminkan proses panjang untuk terus bertumbuh. Menurutnya, ARMA berawal dari sebuah mimpi kecil di Ubud hingga berkembang menjadi ruang pertemuan seni dunia dengan jiwa Bali.
“Dari sebuah mimpi kecil di Ubud, ARMA tumbuh menjadi tempat bertemunya dunia dengan jiwa Bali. Spirit Becoming itulah yang kami lihat menyala dalam karya-karya yang dipamerkan hari ini. Melalui pameran ini, dari Ubud, dari Bali, kita terus merajut dunia,” ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, ISI Bali juga mengumumkan penandatanganan Nota Kesepahaman dengan Hasami Tohjiki Industrial Association dan BESTie Co., Ltd. di Nagasaki, Jepang. Kerja sama tersebut akan diwujudkan melalui program magang internasional. Program itu memberikan pelatihan bahasa dan keterampilan membuat keramik kepada mahasiswa sebelum bekerja di industri keramik Hasami, Jepang. *cr83




