Pendekatan Tekno-Sosio: Kunci AI Berbasis Etika dan Kemanusiaan
Sumber Foto: umy.ac.id
Teknologi

Pendekatan Tekno-Sosio: Kunci AI Berbasis Etika dan Kemanusiaan

12:03

Konsep Tekno-Sosio – Artificial intelligence (AI) dewasa ini tidak hanya menjadi isu teknologi, tetapi juga persoalan sosial yang berdampak luas terhadap kehidupan manusia. Di tengah laju inovasi yang semakin pesat, diperlukan pendekatan pengembangan AI yang tidak semata berorientasi pada efisiensi dan kecanggihan sistem, tetapi juga memperhatikan nilai, etika, serta dampak sosial yang ditimbulkan.

Guru Besar Bidang Ilmu Kecerdasan Buatan Terapan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Prof. Ir. Slamet Riyadi, S.T., M.Sc., Ph.D., menegaskan pentingnya membangun kerangka pengembangan AI yang terintegrasi dengan kehidupan sosial. Menurutnya, AI tidak dapat diposisikan sebagai teknologi yang berdiri sendiri, melainkan harus dipahami sebagai bagian dari sistem sosial yang saling terhubung.

“Ekosistem tekno-sosio memandang kecerdasan buatan sebagai teknologi yang selalu berinteraksi dengan manusia, nilai, dan struktur sosial. Oleh karena itu, pengembangannya tidak boleh dilepaskan dari tanggung jawab sosial dan etika,” ujar Slamet.

Ia menjelaskan bahwa konsep ekosistem tekno-sosio menuntut keterlibatan berbagai elemen dalam proses pengembangan dan penerapan AI. Teknologi, menurutnya, tidak hanya dibentuk oleh kemampuan teknis, tetapi juga oleh keputusan manusia serta institusi yang terlibat di dalamnya.

Baca juga: AI dan Kemaslahatan Umat, Guru Besar UMY Soroti Dimensi Etika Teknologi

“Pengembangan kecerdasan buatan tidak bisa diserahkan hanya kepada satu pihak. Akademisi, industri, pembuat kebijakan, dan masyarakat perlu terlibat secara aktif agar AI tidak berkembang secara eksklusif dan elitis,” jelasnya.

Menurut Slamet, kolaborasi lintas sektor tersebut menjadi kunci untuk memastikan AI benar-benar hadir sebagai teknologi yang melayani kepentingan bersama.

Lebih lanjut, dosen Program Studi Teknologi Informasi, Fakultas Teknik UMY ini menilai bahwa pendekatan ekosistem tekno-sosio juga berfungsi menjaga keseimbangan antara kemajuan teknologi dan peran manusia. Dalam kerangka ini, AI diposisikan sebagai sarana pendukung kehidupan sosial, bukan sebagai kekuatan yang mendominasi atau menggantikan peran manusia.

“Ketika kecerdasan buatan dikembangkan tanpa kesadaran sosial, risiko ketimpangan dan dehumanisasi akan semakin besar. Ekosistem tekno-sosio hadir untuk memastikan teknologi tetap berpihak pada manusia,” tegas Prof. Slamet.

Melalui konsep tersebut, Slamet berharap pengembangan AI dapat diarahkan pada tujuan kemaslahatan bersama. Keberhasilan kecerdasan buatan, menurutnya, tidak cukup diukur dari kecanggihan algoritma atau kecepatan sistem, tetapi dari sejauh mana teknologi tersebut mampu memberikan manfaat sosial, memperkuat nilai kemanusiaan, serta mendukung kehidupan masyarakat yang adil dan berkelanjutan. (NF)