Spanyol Rancang Larangan Medsos bagi Anak di Bawah 16 Tahun dan Pidana bagi Bos Platform
Selain larangan akses bagi anak, Spanyol mewacanakan agar para bos perusahaan medsos bisa dijerat secara pidana atas konten yang melanggar hukum.
AFP/Paul Hanna
Oleh Irene Sarwindaningrum
06 Feb 2026 13:00 WIB · Internasional
Rencana Perdana Menteri Spanyol melarang anak di bawah usia 16 tahun mengakses media sosial membuat berang pemilik X, Elon Musk, serta pendiri Telegram, Pavel Durov. Kedua taipan media sosial itu menyebutnya langkah itu membatasi kebebasan bersuara.
Menyusul keberatan Musk dan Durov, kantor berita AFP, Jumat (6/2/2026), melaporkan, Uni Eropa mendukung langkah Spanyol. ”Kami berdiri dalam solidaritas dengan negara-negara anggota yang berupaya meminta pertanggungjawaban pelantar daring. Ini prioritas utama Komisi,” kata juru bicara Komisi Eropa, Thomas Regnier.
Serial Artikel
Larangan Media Sosial bagi Anak-anak
Meski memunculkan pro dan kontra, semakin banyak negara memilih membatasi media sosial bagi anak-anak dengan alasan demi masa depan generasi muda mereka.
Baca Artikel
”Pelantar daring menawarkan banyak manfaat yang dapat dinikmati warga negara kita dengan sebaik-baiknya, ketika kita mengurangi risiko tertentu.”
Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez mengumumkan rencana tersebut pada Selasa (3/2/2026) dalam pertemuan puncak di Dubai, Uni Emirat Arab. Pelarangan media sosial nanti disertai paket langkah yang juga mencakup pengetatan tanggung jawab pelantar (platform) media sosial. Pelarangan dimaksudkan untuk melindungi anak-anak Spanyol dari konten berbahaya, seperti pornografi dan kekerasan.
Sanchez menyebutkan, pelantar digital akan diwajibkan menerapkan verifikasi usia yang benar-benar efektif. ”Platform akan diwajibkan menerapkan sistem verifikasi usia yang efektif, bukan sekadar kotak centang, melainkan penghalang nyata yang benar-benar bekerja,” katanya.
Ia menilai, saat ini anak-anak terekspos pada ruang digital yang penuh risiko. ”Hari ini, anak-anak kita terekspos pada ruang yang tidak pernah dimaksudkan untuk mereka jelajahi sendirian, ruang kecanduan, pelecehan, pornografi, manipulasi, kekerasan. Kita tidak akan lagi menerima hal itu,” ujarnya.
Dalam pidatonya, Sanchez menegur perusahaan teknologi besar karena membiarkan konten ilegal beredar. Di antaranya, materi eksploitasi dan pelecehan seksual anak serta gambar dan video palsu deepfake seksual tanpa persetujuan. Ia mengatakan, pemerintah harus berhenti menutup mata terhadap hal ini.
Larangan medsos bagi anak di bawah 16 tahun merupakan bagian dari paket lima kebijakan yang digulirkan Sanchez. Paket kebijakan akan disetujui mulai pekan depan.
Selain larangan akses dan verifikasi usia, Sanchez menyatakan akan mengubah hukum Spanyol agar para bos perusahaan media sosial bisa dijerat secara pidana karena gagal menghapus konten ilegal atau kebencian di pelantarnya.
Manipulasi algoritma untuk mengamplifikasi konten ilegal juga akan dimasukkan sebagai pasal pidana. Jajaran eksekutif teknologi akan dikenai pidana apabila dinilai gagal menurunkan konten kriminal dari pelantar mereka. ”Tidak ada lagi berpura-pura bahwa teknologi itu netral,” ucap Sanchez.
Namun, rencana tersebut masih bergantung pada dukungan parlemen. Pemerintahan koalisi Sanchez tidak berada di posisi mayoritas dan kerap kesulitan meloloskan legislasi. Seorang juru bicara pemerintah mengatakan, larangan media sosial akan ditambahkan pada langkah perlindungan digital bagi anak yang sudah ada dan sedang diperdebatkan di parlemen.
AFP/Oscar DEL POZO
Orang-orang yang berpakaian seperti zombie menggunakan ponsel mereka saat berpartisipasi dalam sebuah acara untuk mempromosikan acara 'OFF February' pada Sabtu (17/1/2026) di Madrid, Spanyol. Edisi pertama 'Off February' — diluncurkan di Prancis, Spanyol, Inggris, dan Amerika Serikat oleh sebuah yayasan — mengusulkan untuk menghapus aplikasi media sosial dari ponsel guna mendapatkan kembali hubungan yang lebih sehat dan tidak terlalu adiktif dengan platform-platform tersebut.
Oposisi curiga perlindungan anak hanya dalih Sanchez untuk membungkam suara kritis. Seorang juru bicara partai Vox, oposisi sayap kanan, menuduh rencana pembatasan media sosial bagi anak sebagai upaya pemerintah memastikan tidak ada yang mengkritik mereka.
Sementara oposisi utama, Partai Rakyat (Popular Party), menyatakan pernah mengusulkan pembatasan serupa tahun lalu sehingga berpotensi memberi dukungan terhadap langkah tersebut.
Musk berang
Musk menyerang Sanchez terkait pengumuman tersebut. Dalam serangkaian unggahan di X, orang terkaya di dunia itu menyebut ”Dirty Sanchez” atau Sanchez Kotor.
Musk juga menghina Sanchez sebagai seorang tiran dan pengkhianat bagi rakyat Spanyol, disertai emoji tinja. Dalam unggahan lain, Musk menyebut Sanchez sebagai fasis totaliter sejati.
Unggahan itu juga bagian dari rangkaian serangan Musk terhadap otoritas Perancis. Sebelumnya, Perancis menggeledah kantor X di Paris terkait dugaan campur tangan politik dan konten palsu deepfake pelecehan seksual, baik pada anak-anak maupun perempuan tanpa persetujuan.
Durov ikut mengecam rencana Sanchez. Dalam unggahan di aplikasi Telegram, Rabu, ia memperingatkan bahwa kebijakan tersebut mengancam kebebasan digital. ”Regulasi baru yang berbahaya ini mengancam kebebasan internet Anda,” ujarnya.
Menurut Durov, kebijakan larangan media sosial bisa mengubah Spanyol menjadi negara pengawasan dengan dalih perlindungan.
AFP/PAUL HANNA
Remaja bernama Bruno menelusuri media sosial melalui ponselnya di Madrid, Spanyol, Rabu, (4/2/2026).
Sanchez menanggapi kritik itu di X menggunakan saduran dari novel Don Quixote karya Miguel de Cervantes. ”Biarkan para oligarki teknologi menggonggong, Sancho, itu tanda kita sedang melaju,” cuitnya.
Biarkan para oligarki teknologi menggonggong, Sancho, itu tanda kita sedang melaju.
Sumber Pemerintah Spanyol mengungkapkan, Durov menggunakan kendali tanpa batas atas Telegram untuk mengirim pesan yang penuh kebohongan dan serangan tidak sah kepada seluruh pengguna Telegram di Spanyol.
Menurut mereka, hal itu menunjukkan kebutuhan mendesak untuk mengatur media sosial dan aplikasi pesan seluler. Langkah Spanyol muncul di tengah tren pembatasan akses anak ke media sosial di sejumlah negara. Australia menjadi yang pertama pada Desember 2025.
Kebijakan Australia melarang remaja di bawah 16 tahun dari akses sejumlah medsos populer, seperti Tiktok, Twitch, Facebook, Snapchat, Reddit, X, dan Instagram. Pengelola yang dinilai melanggar atau gagal mengikuti aturan diancam denda tinggi.
Pada Januari 2026, Perancis menyetujui rancangan undang-undang (RUU) yang melarang medsos bagi anak di bawah 15 tahun. RUU ini direncanakan berlaku pada awal tahun ajaran baru, September 2026. RUU itu juga melarang penggunaan ponsel di sekolah menengah atas.
Denmark juga memperkenalkan legislasi serupa untuk melarang akses medsos bagi pengguna di bawah 15 tahun. Bulan lalu, Inggris turut menggulirkan larangan medsos bagi remaja muda.
Di tingkat Uni Eropa, Spanyol disebut bergabung dengan Denmark, Yunani, dan Perancis untuk mendorong langkah serupa di UE. Sanchez mengatakan, Spanyol bergabung dengan lima negara Eropa lain untuk mengoordinasikan regulasi medsos antarnegara. Ia menyebutnya sebagai koalisi pihak-pihak yang punya kemauan secara digital (coalition of digitally willing).
Saat ini banyak aplikasi medsos mensyaratkan usia minimal 13 tahun, tetapi penerapannya bervariasi. Pengguna sering hanya diminta menyatakan usia sendiri tanpa verifikasi lanjutan. (AFP/AP)
Serial Artikel
Dari Isu Politik hingga Lobi Perusahaan, Alotnya Larangan Medsos di Inggris
Pemerintah dan parlemen Inggris berseberangan soal larangan medsos bagi anak. Tekanan politik kian kuat, sementara pemerintah memilih menahan diri.
Baca Artikel
pelarangan medsos spanyol Telegram perlindungan anak media sosial
Kerabat Kerja
Penulis:
Irene Sarwindaningrum
|
Editor:
Fransisca Romana Ninik W
|
Penyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul




