Topeng Monyet: Antara Tradisi dan Perlindungan Satwa
2.1k
DIBACA
Mojokerto,Sekilasmedia.com- Hiburan topeng monyet masih kerap dijumpai di sejumlah kawasan permukiman, di balik atraksi topeng monyet yang mengundang tawa para penonton, tersimpan kisah hiburan jalanan yang bertahan hidup dengan mengandalkan pertunjukan sederhana demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Atraksi ini biasanya dilakukan secara sederhana dengan memanfaatkan ruang terbuka.
Meski banyak menuai pro dan kontra di tengah masyarakat, karena dianggap eksploitasi terhadap satwa, mengingat monyet yang digunakan sebagai pertunjukan kerap mendapatkan perlakuan yang tidak sesuai dengan prinsip perlindungan hewan. Monyet seringkali diperlakukan kasar dengan leher dirantai, dipaksa berjalan jauh, dan dibiarkan kelaparan. Di beberapa daerah topeng monyet telah dilarang karena melanggar undang-undang perlindungan satwa.
BACA JUGA : Segenap Pemerintah Desa Kalitengah Kecamatan Tanggulangin Sidoarjo, Mengucapkan "Selamat Tahun Baru 2025"
Pemerintah daerah di sejumlah wilayah pun telah mengeluarkan kebijakan pembatasan hingga pelarangan pertunjukan topeng monyet di ruang publik. Kebijakan ini bertujuan untuk menjaga ketertiban umum sekaligus melindungi satwa dari eksploitasi. Kehadiran pertunjukan ini kerap mengundang kerumunan kecil, dengan penonton memberikan uang seikhlasnya sebagai bentuk apresiasi.
“Bagi sebagian pawang, topeng monyet bukan sekadar hiburan jalanan, melainkan satu-satunya sumber penghasilan untuk menghidupi keluarga di tengah keterbatasan keterampilan dan minimnya lapangan pekerjaan.” Ujar pawang monyet.
Namun seiring perkembangan zaman eksistensi topeng monyet mulai menghadapi penurunan, karena banyak hiburan modern berbasis digital bermunculan membuat minat masyarakat terhadap hiburan tradisional berkurang, terutama di kalangan generasi muda.
BACA JUGA : Keluarga Besar Pemerintah Kecamatan Porong Sidoarjo Mengucapkan Selamat Hari Pers Nasional 2023
Meski demikian, hingga saat ini topeng monyet masih bertahan di beberapa tempat sebagai bagian dari realitas sosial masyarakat. Fenomena ini menunjukkan adanya dilema antara upaya pelestarian hiburan rakyat dan tuntutan perubahan nilai serta kesadaran terhadap kesejahteraan hewan.
Salah satu penonton mengaku melihat topeng monyet karena kasihan. “Saya menonton karena kasihan pada pawangnya, tapi berharap ada pekerjaan yang lebih layak agar tidak perlu melibatkan satwa.” Ujar dona salah satu penonton.
Untuk kedepannya, keberadaan hiburan topeng monyet masih menunggu kejelasan kebijakan pemerintah daerah. Di satu sisi, hiburan ini menjadi sumber penghasilan kehidupan bagi sebagian masyarakat, namun di sisi lain satwa mempunyai hak mendapatkan perlindungan dan kehidupan yang layak.
(Foto: Rose)
Penulis: Rose Editor: Erik
Polres Tanjung Balai Tangani Kasus Penganiayaan
Pos Terkait
Pariwara
ARTOTEL TS Suites Surabaya Suguhkan “Jelajah Nusantara” untuk Buka Puasa Ramadan 2026
Pariwara
Kuningan Pahat Tangan Etnik Art, Produk Mojokerto yang Populer di Bali
Pariwara
Aston Mojokerto Resmi Luncurkan Paket Buka Puasa “Jelajah Rasa Timur ke Barat”
Pariwara
Ketua DPRD Kota Mojokerto, Bersama Wakil dan Anggota Mengucapkan, Selamat Hari pers Nasional 2026
Pariwara
Keluarga Besar SDN Glagaharum Mengucapkan, “Selamat Hari Jadi Ke -167 Tahun Kabupaten Sidoarjo”
Pariwara
SDN Gedang 2 Mengucapkan, “Selamat Hari Jadi ke-167 Tahun Kabupaten Sidoarjo”




