Analisis Kinerja APBN dan Strategi Fiskal Indonesia di Tengah Ketidakpastian Global
Agenda Nasional - Abstrak
Artikel ini menganalisis kinerja APBN hingga Februari 2026 sebagai instrumen shock absorber dan katalis pertumbuhan. Dengan pertumbuhan PDB 5,11%, artikel ini mengevaluasi efektivitas belanja negara dalam memicu multiplier effect dan menjaga inklusivitas ekonomi di tengah volatilitas global.
Latar Belakang
Terdapat diskoneksi antara ketidakpastian geopolitik global yang menekan rantai pasok dengan realitas domestik Indonesia yang justru mencatatkan surplus dagang selama 68 bulan berturut-turut. Meskipun terdapat risiko eksternal, cadangan devisa Indonesia tetap kokoh di angka 154,6 miliar USD per Januari 2026.
Dalam literatur klasik, kebijakan fiskal ekspansif yang ditandai dengan defisit anggaran sering kali dikaitkan dengan risiko inflasi tinggi. Namun, data menunjukkan bahwa meskipun terjadi defisit sebesar Rp54,6 T (0,21% terhadap PDB) , inflasi justru tetap terkendali pada level 3,55%. Hal ini menantang asumsi tradisional mengenai hubungan linear antara deficit spending dan stabilitas harga di pasar negara berkembang.
Sejauh mana efektivitas kebijakan front-loading belanja di awal tahun (seperti THR dan bantuan pangan) benar-benar mampu mengompensasi perlambatan investasi sektor swasta akibat tingginya suku bunga global? Fokus riset ini adalah membedah peran APBN sebagai motor penggerak permintaan domestik (demand-side management).
Keynesian Macroeconomics
Kebijakan pemerintah dalam mengalokasikan stimulus konsumsi selama periode Ramadan-Idulfitri sebesar Rp14,09 T untuk bantuan pangan dan Rp55 T untuk THR berakar pada teori Keynesian. Teori ini menyatakan bahwa dalam kondisi tertentu, intervensi pemerintah melalui pengeluaran publik diperlukan untuk meningkatkan Aggregate Demand.




