Bahasa dan Kelas Sosial dalam Interaksi Sehari-hari
Tanpa kita sadari, bahasa yang kita gunakan setiap hari sering kali menjadi "label sosial" di mata orang lain. Pilihan kata, cara menyusun kalimat, hingga gaya bicara tertentu kerap diasosiasikan dengan tingkat pendidikan, pekerjaan, bahkan kelas sosial seseorang. Dari obrolan santai di warung kopi hingga diskusi resmi di ruang rapat, bahasa tidak pernah benar-benar netral.
Dalam kajian sosiolinguistik, bahasa dipahami sebagai cerminan struktur sosial. Ibrahim (2025) menjelaskan bahwa hubungan antara bahasa dan kelas sosial tampak jelas melalui pilihan kata dan ragam bahasa yang digunakan penutur. Masyarakat dengan status sosial tertentu cenderung menggunakan bahasa yang dianggap lebih "baku", formal, dan terkontrol, sementara kelompok lain lebih leluasa memakai bahasa nonformal atau ragam sehari-hari. Akibatnya, muncul anggapan bahwa cara berbicara tertentu lebih "tinggi" nilainya dibanding yang lain.
Hal serupa juga disoroti Arum (2025) yang menegaskan bahwa bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai penanda identitas sosial. Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang sering menyesuaikan bahasanya dengan lingkungan sosial yang dihadapi. Di ruang akademik atau profesional, bahasa formal dipilih untuk menunjukkan kredibilitas dan posisi sosial, sedangkan dalam lingkaran pertemanan, bahasa santai justru dianggap lebih akrab dan egaliter.
Menariknya, Budiyanto melihat fenomena bahasa dari sudut pandang kelas menengah Indonesia. Ia menunjukkan bahwa kelas menengah kerap menggunakan bahasa sebagai simbol modernitas dan status. Campur kode bahasa Indonesia dengan istilah asing, terutama bahasa Inggris, menjadi strategi tidak langsung untuk menampilkan citra terdidik dan berwawasan global. Bahasa, dalam konteks ini, bukan sekadar alat bicara, melainkan sarana membangun citra diri.
Namun demikian, penting dipahami bahwa bahasa tidak sepenuhnya menentukan nilai seseorang. Bahasa lebih tepat dipandang sebagai hasil dari proses sosial, pendidikan, dan lingkungan. Seseorang bisa menggunakan bahasa yang berbeda-beda sesuai situasi tanpa harus terikat pada satu label kelas sosial tertentu. Bahasa bersifat dinamis dan fleksibel, mengikuti kebutuhan komunikasi penuturnya.
Pada akhirnya, bahasa sehari-hari memang dapat memengaruhi cara seseorang dipersepsikan secara sosial, tetapi bahasa seharusnya tidak menjadi alat penghakiman. Perbedaan cara berbicara adalah bagian dari keragaman sosial yang justru memperkaya interaksi manusia. Alih-alih menilai status dari bahasa, yang lebih penting adalah bagaimana bahasa digunakan untuk membangun pemahaman dan hubungan antarsesama.




