BRIN Soroti Pentingnya Ekosistem Sosial dalam Pelestarian Manuskrip Nusantara
Sumber Foto: Harianjogja.com
Sosial

BRIN Soroti Pentingnya Ekosistem Sosial dalam Pelestarian Manuskrip Nusantara

Home > News

Sunartono

Ilustrasi Buku - Reuters

Advertisement

Harianjogja.com, JAKARTA —Pelestarian manuskrip Nusantara tidak dapat dilepaskan dari ekosistem sosial-budaya yang melingkupinya. Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan (PR MLTL) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan bahwa ketahanan manuskrip sebagai warisan budaya tidak hanya bergantung pada upaya dokumentasi atau digitalisasi, tetapi juga pada keberlanjutan praktik budaya yang hidup di tengah masyarakat.

Periset PR MLTL BRIN, Agus Iswanto, mengungkapkan temuan penelitiannya terkait tradisi pembacaan manuskrip ruwatan di Jember, Jawa Timur. Dalam tradisi tersebut, manuskrip justru mampu bertahan karena terus digunakan dalam praktik ritual yang diwariskan lintas generasi.

Advertisement

“Manuskrip ini tidak bisa digantikan oleh cetakan atau digital. Untuk ruwatan, syaratnya harus naskah tulis tangan beraksara Pegon dan dibaca dalam ritual,” kata Agus dalam keterangan di Jakarta, Minggu.

Menurut Agus, kekuatan tradisi manuskrip terletak pada ekosistem yang utuh dan saling terhubung. Ekosistem tersebut mencakup penyalin naskah, pembaca, peruwat, tuan rumah penyelenggara ritual, hingga audiens yang menjadi bagian dari praktik budaya tersebut.

BACA JUGA

Rusun Subsidi Perkotaan Disiapkan, Kementerian PKP Gandeng Danantara

Menkop RI Dorong KDKMP Sleman Jadi Model Koperasi Modern Berbasis UMKM

Ia menegaskan bahwa digitalisasi tetap memiliki peran penting dalam upaya pelestarian, namun tidak dapat dijadikan satu-satunya solusi untuk menjaga keberlanjutan manuskrip sebagai tradisi hidup.

“Tidak semua budaya manuskrip bisa diselamatkan hanya dengan digitalisasi. Ekosistem sosial-budaya masyarakatlah yang menentukan,” ujarnya menegaskan.

Pandangan serupa disampaikan Peserta Program Doktoral Riset BRIN/Fakultas Ilmu Bahasa (FIB) Universitas Indonesia, Muh. Heno Wijayanto. Ia menilai manuskrip kerap disalahpahami sebagai artefak statis yang terlepas dari konteks sosial dan praktik budaya.

Dalam kajiannya mengenai transformasi ritual lewatan di Jawa Tengah melalui teks Bhima Swarga, Heno menemukan bahwa ketahanan manuskrip tersebut justru terletak pada kemampuannya beradaptasi dengan perubahan zaman dan sistem kepercayaan.

“Manuskrip seharusnya dilihat sebagai tradisi yang hidup, melibatkan praktik tulis, ritual, dan pendidikan yang terus berlanjut. Kunci resiliensinya adalah adaptasi. Tradisi bertahan bukan karena utuh, tetapi karena mampu memberi makna baru bagi masyarakatnya,” urai Heno.

Sementara itu, Peneliti Budaya sekaligus Assistant Professor dari Universitas Leiden, Belanda, Verena Meyer, menyoroti paradoks dalam praktik pelestarian warisan tekstual. Ia mengkritisi kecenderungan yang lebih mengutamakan teks tua sebagai artefak “asli” dibandingkan tradisi manuskrip yang masih hidup di tengah masyarakat.

Menurut Verena, digitalisasi memiliki sifat ambivalen. Di satu sisi membantu penyelamatan teks, namun di sisi lain berpotensi mencabut manuskrip dari ekosistem sosial yang memberi makna pada keberadaannya.

“Digitalisasi membantu, tetapi juga bisa mencabut teks dari ekosistem yang memberinya makna. Arsip digital pada dirinya sendiri belum merupakan ekosistem tempat tradisi bisa hidup,” ucap Verena Meyer.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : Antara

Tag: Penelitian

Advertisement

Berita Terkait

Bahan Kimia Berbahaya Terdeteksi di Headphone Brand Ternama

Klaim Robot Buatan Lokal Ternyata Produk China, Kampus India Diusir

Proyek Kreatif Siswa Tampil di Community Service Exhibition GDA

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Berita Terbaru

Warga Eropa Tolak Serangan AS-Israel ke Iran, Mayoritas Pilih Netral

News | 54 minutes ago

Sambut Mudik Lebaran 2026, Perbaikan Tol Trans Sumatra Dikebut

News | 1 hour ago

Jaga Perdamaian Global, Kapolri Ajak Rakyat Dukung Diplomasi Presiden

News | 1 hour ago

Banjir Rendam Empat Kecamatan di Serang, Ratusan Warga Mulai Terdampak

News | 1 hour ago

Advertisement

Sumbar Butuh Rp21,4 Triliun untuk Pemulihan Total Pascabencana

News | 2 hours ago

Jelang Lebaran 2026, PLN Amankan Pasokan 84 Juta Ton Batu Bara

News | 3 hours ago

Yusril Tegaskan Vonis Bebas Delpedro Marhaen dkk Final Tanpa Kasasi

News | 3 hours ago

PBB Sebut 100 Ribu Warga Lebanon Mengungsi Akibat Agresi Israel

News | 3 hours ago

Vidi Aldiano Meninggal Dunia, Deddy Corbuzier: Hati Saya Sangat Hancur

News | 3 hours ago

Advertisement

Donald Trump Klaim Iran Menyerah

News | 4 hours ago

Tak Mau Dimadu, Istri Muda di Tangerang Bacok Suami Hingga Tewas

News | 4 hours ago

Vonis Bebas Delpedro Marhaen dkk, Begini Respons Komnas HAM

News | 4 hours ago

Wapres Gibran Sampaikan Bela Sungkawa Meninggalnya Vidi Aldiano

News | 4 hours ago

Tabrakan Maut Tiga Truk di Tol Semarang-Solo KM 431, Satu Orang Tewas

News | 4 hours ago

Advertisement

Mudik Lebaran 2026: Daftar Bandara, Stasiun Terpadat dan Jadwal WFH

News | 5 hours ago