COP27 Resmi Dibuka di Mesir, Kompensasi Iklim bagi Negara Rentan Masuk Agenda
Sharm el-Sheikh, Mesir — Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Perubahan Iklim PBB ke-27 atau COP27 resmi dibuka di Sharm el-Sheikh, Mesir, pada Minggu (6/11). Para utusan dari berbagai negara berkumpul untuk merundingkan langkah menghadapi perubahan iklim di tengah beragam krisis global, mulai dari perang di Ukraina, inflasi tinggi, kelangkaan pangan, hingga krisis energi.
Pembukaan COP27 ditandai dengan kesepakatan untuk secara resmi memasukkan pembahasan gagasan pemberian uang ganti rugi kepada negara-negara rentan yang telah terdampak perubahan iklim. Kesepakatan itu dicapai setelah perundingan awal yang intens selama dua hari.
Kompensasi iklim masuk agenda resmi
Isu uang ganti rugi—sering disebut kompensasi iklim—telah dibicarakan selama bertahun-tahun, namun kerap mendapat tentangan dari negara-negara kaya, termasuk Amerika Serikat.
Sekretaris Eksekutif Perubahan Iklim PBB, Simon Stiell, menyebut pengadopsian isu tersebut sebagai agenda sebagai sebuah kemajuan. Menurutnya, langkah itu menunjukkan sikap yang “dewasa dan konstruktif” dari para pihak, meski topiknya rumit dan telah dikemukakan lebih dari tiga dekade.
Ketegangan dalam COP27 diperkirakan banyak berkisar pada isu ganti rugi ini. Pembahasannya menyangkut dana dari negara-negara kaya untuk negara berpenghasilan rendah dan rentan yang dinilai memikul tanggung jawab lebih kecil atas emisi gas rumah kaca penyebab pemanasan global.
Pengalaman COP26 dan target keputusan 2024
Pada COP26 di Glasgow tahun lalu, negara-negara berpenghasilan tinggi memblokir usulan pembentukan badan pembiayaan ganti rugi. Sebagai gantinya, mereka mendukung penyelenggaraan dialog selama tiga tahun untuk membahas skema pendanaan.
Presiden COP27 Sameh Shoukry mengatakan masih ada keberatan terkait sejauh mana dan tanggung jawab apa saja yang mungkin timbul akibat memasukkan isu kompensasi iklim ke agenda resmi. Namun, ia menilai terjadi perubahan sikap, terutama dalam setahun terakhir, sehingga proses kini dapat bergerak maju menuju konsultasi dan negosiasi yang lebih mendalam serta transparan.
Shoukry menegaskan diskusi kompensasi iklim tidak akan melibatkan tanggung jawab atau kompensasi yang mengikat. Pembahasan itu dimaksudkan untuk mengarah pada keputusan konklusif “paling lambat tahun 2024.” Ia juga menyebut dimasukkannya agenda tersebut mencerminkan solidaritas bagi korban bencana iklim.
Peringatan WMO dan PBB soal laju krisis iklim
Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pada Minggu (6/11) memperingatkan bahwa pemanasan Bumi dan kenaikan permukaan laut memburuk dan terjadi lebih cepat dibanding sebelumnya.
Sebelum KTT digelar, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyerukan agar COP27 menjadi ajang untuk membangun kembali kepercayaan dan membentuk kembali ambisi yang diperlukan agar dunia tidak “mendorong planet kita jatuh ke dalam jurang iklim.”
Guterres memperingatkan bahwa, dengan kebijakan yang berlaku saat ini, suhu rata-rata Bumi mengarah naik hingga 2,8 derajat Celcius pada akhir abad ini. Menurutnya, kondisi itu akan memicu kekacauan iklim yang sulit dipulihkan.
Kenaikan permukaan laut dan rekor suhu
Dalam laporan iklim tahunannya, badan cuaca PBB menyebut laju kenaikan permukaan laut dalam sepuluh tahun terakhir menjadi dua kali lipat dibanding 1990-an. Sejak Januari 2020, kenaikannya bahkan terjadi pada tingkat yang lebih tinggi.
- Sejak 2020, permukaan laut naik sekitar 5 milimeter per tahun.
- Pada 1990-an, kenaikannya sekitar 2,1 milimeter per tahun.
WMO juga menyatakan delapan tahun terakhir menjadi periode terpanas yang tercatat. Laporan tersebut merangkum tren cuaca, data, dan dampak terkini pada satu titik waktu, serta menekankan bahwa dampak perubahan iklim paling nyata dirasakan melalui cuaca ekstrem.
Dampak cuaca ekstrem di berbagai wilayah
Laporan itu menyoroti sejumlah peristiwa besar, termasuk banjir luar biasa di Pakistan pada musim panas yang menewaskan lebih dari 1.700 orang dan membuat 7,9 juta orang mengungsi. WMO juga mencatat kekeringan empat tahun di Afrika Timur yang melumpuhkan dan menyebabkan lebih dari 18 juta orang kelaparan, menyusutnya Sungai Yangtze ke level terendah pada Agustus, serta rekor gelombang panas yang melanda Eropa dan China.
Peserta dan kehadiran pemimpin dunia
Lebih dari 40.000 peserta terdaftar dalam konferensi tahun ini. Penyelenggara menyebut sekitar 110 pemimpin dunia akan menghadiri COP27, dengan banyak di antaranya dijadwalkan berpidato pada pertemuan tingkat tinggi 7–8 November.
Delegasi Indonesia pada COP27 dipimpin oleh Wakil Presiden Ma’ruf Amin. Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Joe Biden diperkirakan tiba di Mesir pada akhir pekan.




