Doomscrolling: Ancaman Kesehatan Mental Gen Z di Era Media Sosial
Media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan Generasi Z. Bangun tidur hingga sebelum tidur kembali, jari nyaris tak lepas dari layar ponsel. Awalnya, aktivitas scrolling dilakukan untuk mencari hiburan atau informasi. Namun, tanpa disadari, kebiasaan ini bisa berubah menjadi doomscrolling, perilaku terus-menerus mengonsumsi konten negatif, mengkhawatirkan, atau memicu kecemasan.
Doomscrolling sering terjadi ketika pengguna merasa terdorong untuk terus mengikuti berita buruk, konflik, krisis ekonomi, atau perbandingan hidup yang tidak realistis. Bagi Gen Z, yang tumbuh dalam arus informasi digital tanpa henti, kebiasaan ini kerap dianggap wajar. Padahal, paparan konten negatif secara berulang dapat memengaruhi kondisi emosional dan kesehatan mental.
Salah satu faktor utama yang mendorong doomscrolling adalah algoritma media sosial. Platform seperti TikTok, Instagram, dan X (Twitter) dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin. Ketika seseorang sering berinteraksi dengan konten tertentu, algoritma akan terus menampilkan konten serupa. Akibatnya, Gen Z bisa terjebak dalam lingkaran informasi yang membuat mereka terus merasa cemas, khawatir, atau takut tertinggal dari perkembangan terbaru.
Doomscrolling juga berkaitan erat dengan kecemasan sosial dan perbandingan diri. Melihat pencapaian orang lain, gaya hidup yang tampak sempurna, atau berita tentang masa depan yang tidak menentu dapat memunculkan perasaan tidak cukup baik. Gen Z pun sering merasa tertekan untuk selalu tahu, selalu update, dan selalu relevan, meskipun hal itu mengorbankan ketenangan batin.
Ironisnya, semakin sering seseorang melakukan doomscrolling, semakin sulit pula ia berhenti. Media sosial menjadi tempat pelarian dari rasa cemas, tetapi justru memperkuat kecemasan itu sendiri. Banyak Gen Z mengaku merasa lelah secara mental, sulit fokus, dan gelisah setelah terlalu lama menghabiskan waktu di media sosial.
Menghadapi fenomena ini, kesadaran digital menjadi kunci. Doomscrolling bukan soal lemahnya kontrol diri semata, melainkan tentang bagaimana teknologi dirancang untuk menarik perhatian. Gen Z perlu belajar mengenali batas, mengatur waktu layar, dan lebih selektif dalam mengonsumsi konten. Mengalihkan perhatian pada aktivitas offline, memperkuat relasi nyata, dan memberi jeda dari media sosial dapat membantu memulihkan keseimbangan emosional.
Pada akhirnya, media sosial seharusnya menjadi ruang berbagi dan berekspresi, bukan sumber kecemasan yang terus-menerus. Dengan sikap yang lebih sadar dan bijak, Gen Z dapat tetap terhubung dengan dunia digital tanpa harus terjebak dalam scrolling tanpa akhir yang menguras kesehatan mental.




