FORKO PANCER Siap Gelar Festival Cirebon Tempo Dulu 2026 untuk Lestarikan Budaya
Sumber Foto: Kabar Cirebon
Agenda Utama

FORKO PANCER Siap Gelar Festival Cirebon Tempo Dulu 2026 untuk Lestarikan Budaya

KABAR CIREBON - Festival Cirebon Tempo Dulu yang digagas Forum Komunikasi Pecinta Sejarah Seni dan Budaya Cerbon (FORKO PANCER) jadi agenda utama di tahun 2026.

Kepengurusan baru FORKO PANCER periode 2026-2029 memang langsung ngegas program-program baru, di samping meneruskan agenda yang sudah rutin dijalankan.

Jabatan Ketua Umum FORKO PANCER periode 2026-2029 masih dipercayakan kepada R. Dian Andhiawan Seminingrat. Sedangkan posisi Wakil Ketua dan Sekretaris ditempati Khaerudin Gujel dan Fera.

"Kepengurusan baru FORKO PANCER makin serius mewujudkan Cirebon sebagai kota sejarah, seni, dan budaya. Kini ingin all out, menampilkan budaya Cirebon ke level internasional," kata Dian Andhiawan, yang biasa dipanggil Mama Dido.

Mama Dido mengungkapkan, epengurusan baru FORKO PANCER periode 2026-2029 dibentuk melalui musyawarah yang dihadiri oleh sejumlah pengurus dan anggota.

Struktur kepengurusan periode ini disebut lebih solid dan siap bekerja secara kolaboratif, dengan semangat kebersamaan dan pengabdian pada pelestarian warisan sejarah seni dan budaya Cirebon.

Mama Dido menegaskan bahwa terbentuknya kepengurusan baru ini menjadi momentum penting untuk memperkuat arah gerak organisasi.

“Kami ingin FORKO PANCER menjadi wadah aktif bagi masyarakat yang peduli sejarah seni dan budaya. Tahun 2026 nanti akan menjadi titik awal pelaksanaan berbagai agenda kegiatan," ujarnya.

Program rutin yang sudah dijalankan FORKO PANCER, yakni Ngaji lan Kanda Sejarah (NGASAH), Literasi Sejarah Cirebon, Festival Seni Budaya, hingga program edukasi bagi generasi muda.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum FORKO PANCER, Khaerudin Gujel, menambahkan bahwa agenda kegiatan tahun 2026 akan difokuskan pada penguatan identitas sejarah dan budaya Cirebon melalui kolaborasi lintas komunitas dan lembaga.

“Kami berencana menggelar Festival Cirebon Tempo Dulu, Sendragentala, serta kegiatan seni tradisional lintas daerah. Semua ini adalah bentuk upaya kami untuk menghidupkan kembali semangat kearifan lokal,” ungkapnya.

Dari sisi administrasi dan koordinasi, Fera Sekretaris FORKO PANCER menekankan pentingnya tata kelola organisasi yang transparan dan terstruktur.

“Kami sedang menyiapkan jadwal kegiatan tahunan serta sistem dokumentasi yang rapi agar setiap program bisa berjalan efektif dan berkelanjutan. Pengurus juga akan aktif menjalin kerja sama dengan instansi pemerintah daerah dan lembaga budaya,” jelasnya.

Sementara Bidang Humas FORKO PANCER, Agus Amino, menyoroti pentingnya publikasi dan digitalisasi sejarah Cirebon.

“FORKO PANCER akan memanfaatkan media digital untuk memperluas jangkauan informasi sejarah. Kami ingin generasi muda mengenal sejarah Cirebon melalui cara yang menarik dan mudah diakses, seperti Literasi Sejarah, konten video, artikel sejarah,” ucapnya.

Sebagai penasehat organisasi, Raden Mulyono, memberikan apresiasi atas semangat pengurus baru yang dinilai memiliki visi jelas dan langkah konkret.

“Kepengurusan kali ini memiliki energi baru. Saya berharap semangat kebersamaan dan niat baik ini terus dijaga. Cirebon memiliki kekayaan sejarah luar biasa, dan FORKO PANCER harus menjadi garda terdepan dalam menjaga serta mengenalkannya ke dunia luar,” tuturnya.

Dengan semangat baru dan sinergi yang kuat, FORKO PANCER menegaskan siap melangkah menuju tahun 2026 dengan deretan program budaya, penelitian sejarah, dan kegiatan sosial-kultural. Semua diarahkan pada satu tujuan besar: mewujudkan Cirebon sebagai kota sejarah, seni, dan budaya yang membanggakan Indonesia.

"Saya yakin dengan komposisi kepengurusan baru periode 2026-2029 akan membawa kemajuan FORKO PANCER ke depan. Dengan semangat militan yang dimiliki oleh pengurus baru ini, FORKO PANCER dapat mejalankan visi misi organisasi dan mewujudkan Cirebon sebagai kota sejarah seni dan budaya", pungkas Mama Dido.***