FPCI Dorong Pengembangan 100 GW PLTS untuk Transisi Energi Bersih Indonesia
Transisi energi bersih menjadi pembahasan penting FPCI dalam mewujudkan target 100 persen energi terbarukan 2035 dengan pengembangan 100 Gigawatt (GW) PLTS.
Oleh Nikmah Laily Hawa
Diterbitkan 21 Februari 2026, 13:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Perbesar
Tanya apapun tentang artikel ini...
Cari
Paling sering ditanyakan
Apa tujuan FPCI mendorong 100 GW PLTS?
Mengapa target 100 GW PLTS dianggap realistis?
Apa saja alasan Indonesia harus mempercepat pengembangan PLTS?
Baca artikel ini 5x lebih cepat
Liputan6.com, Jakarta - Isu transisi energi bersih Indonesia kian mengemuka, salah satunya bagi Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI). FPCI mendorong energi surya menjadi mudah, murah, dan dapat diakses seluruh masyarakat Indonesia.
Melalui Press Briefing bertajuk ‘Rekomendasi Kebijakan, Regulasi, dan Implementasi Program 100 GW PLTS untuk Ketahanan dan Kemandirian Energi serta Pertumbuhan Indonesia’ di Jakarta, FPCI mendorong realisasi target 100 persen energi terbarukan 2035 yang diusung Presiden Prabowo Subianto.
BACA JUGA: Mulai Proyek Listrik 100 GW, PLN Luncurkan PLTS Mentari Nusantara I
BACA JUGA: Pemerintah Bidik Listrik 100 Gigawatt PLTS, Koperasi Diminta Ambil Peran
BACA JUGA: Pemerintah Tancap Gas Energi Surya: 10 Giga PLTS Disiapkan Gantikan Diesel
"Rekomendasi 100 Gigawatt (GW) Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) ini disusun oleh 19 organisasi masyarakat sipil dan lembaga riset sebagai fondasi awal menuju transisi pemanfaatan energi bersih sebagai motor pembangunan Indonesia,” ujar Climate Program Manager FPCI Kiara Putri Mulia, Jumat 20 Februari 2026.
Advertisement
Program ini, lanjut dia, bukan hanya soal menikmati energi bersih. Tetapi mengenai kompetisi dan daya saing di masa depan Industri Indonesia.
Sementara itu, Pendiri sekaligus ketua FPCI Dino Patti Djalal mengatakan, 100 GW PLTS dapat direalisasikan apabila programnya terlaksana dengan baik.
"100 gigawatt dalam 10 tahun itu menurut kami adalah suatu hal yang sangat realistis dan bisa dicapai asal kita serius dan memiliki program yang juga terlaksana dengan baik," kata Dino.
Ia menjelaskan, Indonesia memiliki potensi energi surya nasional sekitar 3.294 GW, sementara kapasitas yang terpasang saat ini masih berada di kisaran 954,54 MWp, termasuk PLTS atap.
Oleh karena itu, untuk mencapai target net-zero emission pada 2060, FPCI merancang energi surya sebagai penyedia energi listrik jangka panjang sekaligus untuk memperluas akses listrik di daerah terpencil.
Lebih jauh, transisi energi melalui pengembangan 100 GW PLTS ini berpotensi meningkatkan investasi infrastruktur, penguatan industri manufaktur dan hilirisasi energi bersih, penciptaan lapangan kerja hijau, serta peningkatan kesehatan dan produktivitas masyarakat.
Mengapa Indonesia Harus Mempercepat PLTS?
Perbesar
Dino menjelaskan, setidaknya ada tiga alasan mengapa Indonesia harus mempercepat pengembangan PLTS.
"Pertama adalah ketahanan energi. Indonesia masih mengalokasikan subsidi dan kompensasi energi dalam ukuran besar sekian tahun, dan kita tetap terpapar volatilitas harga global, dan energi surya memberikan kita sumber energi domestik dan bersih, yang stabil untuk jangka panjang," ucap Dino.
Yang kedua, lanjut dia, industrialisasi energi bersih. Jadi tidak hanya memasang planet surya, tapi juga bisa membangun industri, manufaktur, rantai pasok, teknologi, dan SDM-nya.
"Ketiga, bisa menciptakan keadilan pembangunan dan produktivitas desa, jadi kalau kita terus membangun PLTS berdistribusi yang di desa-desa ini bisa menjadi salah satu program elektrifikasi energi terbarukan yang terbesar di Asia Timur," kata Dino.
Menurutnya, program ini bukan hanya soal listrik, tetapi tentang produktivitas untuk memanfaatkan energi yang ada. Listrik dapat digunakan untuk kebutuhan pertanian dan pengelolaan hasil yang membuat desa-desa di Indonesia lebih produktif.
Kesempatan Akses Listrik bagi Desa Terpencil
Perbesar
Dalam kesempatan yang sama, CEO Landscape Indonesia Agus Sari juga turut menyampaikan program 100 GW PLTS ini dapat memberikan kesempatan bagi desa-desa yang belum menikmati listrik.
Ia menilai, regulasi pasar kelistrikan Indonesia tidak kompetitif karena beberapa sebab seperti subsidi yang besar hingga masalah akses di beberapa wilayah.
"Sudah lama Indonesia itu berkembang, tapi sekian lamanya, ada desa yang jaraknya hanya 2-3 jam dari ibu kota, masih banyak yang sebenarnya tidak menikmati listrik," ungkap Agus.
"Jadi, ini adalah suatu kesempatan untuk kita memberikan akses kepada mereka yang belum pernah punya akses kepada listrik," imbuhnya.
Ia menyampaikan, dari total 100 GW energi listrik ini akan dibagikan kepada desa-desa yang membutuhkan.
"Kira-kira jumlahnya 80 ribu mega, itu dibagikan di semua perdesaan di Indonesia, satu mega satu desa," terangnya.
Hal ini dilakukan sebagai upaya dekarbonisasi yang dapat berjalan jika penambahan solar panel dan energi terbarukan dibarengi dengan pengurangan kapasitas fossil fuel, serta PLTU berbahan bakar diesel.
Sebagai upaya pengurangan emisi, maka kenaikannya harus diimbangi dengan penataan pembangunan dan pola konsumsi yang lebih berkelanjutan.
Perbesar
plts
SIXtainability
GreenEconomy
energi terbarukan
FPCI
transisi energi bersih
Green Economy
energi
Energi Bersih
Transisi Energi
Advertisement
Nikmah Laily Hawa, Devira PrastiwiTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan




