Gorontalo Raih Pengelolaan APBD Terbaik Nasional di Tahun Pertama Gusnar-Idah
Sumber Foto: InfoPublik
Nasional

Gorontalo Raih Pengelolaan APBD Terbaik Nasional di Tahun Pertama Gusnar-Idah

Kota Gorontalo, InfoPublik – Memasuki usia satu tahun kepemimpinan pada 20 Februari 2026, Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail dan Wakil Gubernur Idah Syahidah Rusli Habibie mencatatkan realisasi pendapatan daerah tertinggi secara nasional.

Gorontalo juga memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dalam pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Capaian tersebut disampaikan oleh Pranata Humas Ahli Muda Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik, Ismail Giu, dalam refleksi kinerja pasangan tersebut selama satu tahun memimpin.

Ismail Giu menegaskan, parameter utama dalam menilai kinerja kepala daerah adalah pengelolaan APBD, baik dari sisi pendapatan maupun belanja.

"Parameternya hanya dua, pendapatan dan belanja," kata Ismail Giu, Kamis (19/2/2026).

Ia merinci, selama satu tahun terakhir, Pemerintah Provinsi Gorontalo berhasil mempertahankan opini WTP atas laporan keuangan daerah.

Lebih dari itu, realisasi pendapatan daerah mencapai 106,89 persen, menempatkan Gorontalo di peringkat pertama se-Indonesia.

Adapun realisasi belanja tercatat 92,78 persen hingga akhir tahun, atau posisi keenam secara nasional.

Menurut Ismail, keberhasilan itu menunjukkan pemahaman pasangan Gusnar-Idah dalam mengelola APBD yang senilai Rp1,8 triliun.

Sumber pendapatan terus ditingkatkan, sementara belanja daerah diserap secara cepat, efektif, dan efisien.

"Fondasi lain yang sudah ditanam yakni soal misi hilirisasi pertanian. Bagaimana komoditi jagung dan ternak semakin bernilai ekonomis," ujarnya.

Salah satu wujud hilirisasi adalah peletakan batu pertama industri hilirisasi melalui program Presiden Prabowo di Kabupaten Gorontalo Utara. Selain itu, aksesibilitas komoditas pertanian antarpulau diperlancar, menjadikan Gorontalo sebagai eksportir ternak sapi dan jagung ke Tarakan serta berbagai kota di Sumatera dan Jawa.

Dampaknya, Nilai Tukar Petani (NTP) Gorontalo pada Desember 2025 mencapai 120,89, naik 5,60 persen dibanding November 2025, menjadikannya tertinggi di kawasan Indonesia Timur.

Di sektor pendidikan, Indeks Pembangunan Literasi (IPL) meningkat dari 70,39 persen pada 2024 menjadi 77,46 persen. Rata-rata lama sekolah naik menjadi 8,38 tahun, dan harapan lama sekolah menjadi 13,18 tahun.

Sementara di bidang kesehatan, Universal Health Coverage (UHC) Gorontalo meraih predikat utama terbaik nasional dengan tingkat keaktifan peserta JKN mencapai 95,28 persen, jauh di atas rata-rata nasional 85 persen. Prevalensi tengkes (stunting) juga turun signifikan menjadi 5,34 persen pada 2025 berdasarkan data EPPBGM.

Ismail juga menyoroti perkembangan sektor riil. Sebanyak 7.163 usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) diintervensi melalui APBD, dan 1.149 UMKM lainnya mendapat bantuan dari BAZNAS. Di sektor koperasi, 50 koperasi diintervensi sehingga total koperasi aktif meningkat menjadi 1.721.

Alhasil, jumlah UMKM tumbuh 16,29 persen menjadi 122.690 unit pada 2025. Kontribusi sektor industri pengolahan terhadap PDRB meningkat menjadi 4,89 persen dengan laju pertumbuhan 16,36 persen.

Dari sisi makro, realisasi investasi naik 2,5 persen dibanding 2024 menjadi Rp5,217 triliun. Nilai ekspor Gorontalo melonjak 49,45 persen, dari USD60,70 juta pada 2024 menjadi USD89,78 juta pada 2025.

"Apa yang dibaca hari ini hanyalah permulaan, belum pantas disebut berhasil dan terlalu kejam menyebut gagal. Sebab pada akhirnya, ini seperti lomba marathon yang hanya akan diberi nilai saat melintasi garis akhir. Paling tidak, Gusnar–Idah sudah memulai langkah demi langkah dengan baik," ujarnya. (mcgorontaloprov/isam)