Kebangkitan Komika: Mengubah Lanskap Hiburan Indonesia
Sumber Foto: Tirto.id
Hiburan

Kebangkitan Komika: Mengubah Lanskap Hiburan Indonesia

Agenda Nasional - tirto.id - Tahun 2024 dan 2025 dapat dibaca sebagai musim panen industri sinema Indonesia. Dalam dua tahun berturut-turut, jumlah penonton bioskop menembus rekor baru, dengan jumlah masing-masing sebesar 80,21 juta dan 80,27 juta penonton—bedasarkan catatan akun Bioskop Box Office di platform X.

Lebih menarik lagi, lonjakan tersebut ditopang terutama oleh film-film garapan sineas lokal. Tiga judul dengan raihan penontotn tertinggi di tahun tersebut—Agak Laen (2024), Jumbo (2025) dan Agak Laen: Menyala Pantiku (2025)—bahkan kini bertengger di jajaran puncak film Indonesia terlaris sepanjang masa.

Namun, capaian itu bukan sekadar anomali statistik atau keberuntungan musiman. Ia mencerminkan pergeseran yang lebih dalam pada lanskap hiburan Indonesia—terutama naiknya satu kelompok kreator yang dalam satu setengah dekade terakhir perlahan, tapi pasti, merebut pusat panggung: para komika

Mereka tak lagi sekadar menjadi "pemanis" atau sidekick dalam sebuah produksi, melainkan memegang kendali penuh sebagai aktor utama, penulis skenario, sutradara, hingga produser yang turut menentukan arah selera pasar.

Dominasi ini sekaligus menandai runtuhnya hegemoni lama yang lama bertumpu pada standar fisik konvensional ala bintang sinetron. Sebagai gantinya, industri memberi ruang lebih besar pada kekuatan narasi yang berangkat dari pengalaman personal, keresahan sehari-hari, dan observasi sosial yang dekat dengan kehidupan penonton.

Pengamat Budaya Pop Hikmat Darmawan mengungkapkan, fenomena komika di layar lebar tak bisa dilihat sebagai aji mumpung atau tren sesaat. Jika ditelisik lebih jauh, dominasi ini adalah hasil dari evolusi panjang yang telah berlangsung lebih dari satu dekade.

Hikmat menyoroti bahwa trajektori karier para komika ini sangat organik, dimulai dari era awal 2010-an. Ia merujuk pada sosok Raditya Dika sebagai salah satu pelopor yang membuka gerbang ini.

Radit tidak tiba-tiba menjadi sutradara atau aktor; ia memulai dari blog, buku best-seller, lalu merambah ke standup comedy, dan akhirnya membangun basis penggemar yang kuat sebelum masuk ke industri film.

“Raditya Dika boleh dibilang salah satu pelopor industri komika ini. Dia punya profil yang cukup, baik modalitas sosial maupun ekonomi. Dia sendiri seorang yang business savvy, orang yang sangat tajam dalam hal bisnisnya,” kata Hikmat kepada Tirto, Selasa (24/2/2026).

Menurut Hikmat, Radit dan generasinya, termasuk Pandji Pragiwaksono, sadar betul untuk membangun infrastruktur bisnis mereka sendiri sejak muda. Mereka tak menunggu dipanggil oleh industri, melainkan menciptakan industrinya sendiri.

Singkatnya: komika datang dengan tawaran dan proposisi yang berbeda dengan pelawak tradisional. Jika grup lawak era lama, seperti Srimulat, Patrio hingga Cagur kerap mengandalkan spontanitas panggung atau komedi fisik, komika bekerja dengan struktur yang lebih rapi sambil menjaga relevansi.

Kemampuan analitis dalam membedah struktur komedi hingga kebiasaan mengobservasi realitas sosial membuat mereka memiliki kelincahan luar biasa untuk beradaptasi di berbagai medium, tak hanya panggung lawak tunggal.

Hal inilah menurut Hikmat, yang membuat mereka lebih mudah beradaptasi dengan kebutuhan industri hiburan, mulai dari film, musik hingga siniar.

“Tapi kalau si Raditya Dika bilang bedanya tuh hasil dari observasi kalau komika. Stand-up komedi itu hasil dari observasi. Jadi ilmu observasinya yang dibikin, lalu di-twist. Jadi mereka mengembangkan ilmu itu,” ucap Hikmat.

Hal ini diamini oleh Muhadkly Acho, komika yang kini sukses menyutradarai film Agak Laen. Menurutnya, di era 2011, para komika masih dalam tahap meraba industri. Namun, keraguan publik tentang apakah standup comedy hanya tren sesaat perlahan sirna ketika para komika mulai menancapkan kuku di industri film.

“Titik mulai ngerasa ini bisa jalan panjang tuh ketika udah bisa masuk ke industri film. Karena kalau film itu kan industri yang sudah well established di Indonesia. Artinya kalau memang standup comedian sudah bisa diterima di industri film, ya berarti napasnya akan lebih panjang, nggak cuman sekadar tren doang,” ujar Acho saat berbincang dengan Tirto.

Menurut Acho, salah satu faktor kunci yang membedakan komika dengan aktor atau selebritis konvensional adalah latar belakang mereka sebagai penulis. Dalam tradisi lawak tunggal, seorang komika dituntut untuk menulis materinya sendiri, mengobservasi lingkungan, dan merumuskan punchline. Proses kreatif ini membentuk pola pikir yang analitis dan strategis.

Acho menekankan bahwa mindset ini menjadi nilai tambah yang penting ketika seorang komika terjun ke produksi film. Mereka tidak hanya pasif menerima arahan, tetapi mampu memberikan masukan untuk memperkaya adegan.

“Mindset kita tuh mindset creator sebetulnya, bukan actor. Jadi ketika kita ditaruh di dalam film sebagai pemain, kita tuh bisa punya kemampuan untuk membedah skrip, kemampuan untuk mengembangkan adegan, kemampuan untuk improve komedinya. Karena kita punya dasar menulis,” jelas Acho.

Kemampuan menulis ini membuat komika menjadi aset yang versatile atau serba bisa. Ketika panggung sepi, mereka bisa menjadi penulis skenario. Saat tawaran akting menipis, mereka dapat berperan sebagai konsultan komedi. Fleksibilitas ini jarang dimiliki aktor murni yang sangat bergantung pada tawaran peran.

“Di set tuh udah bukan cuman yang ngebaca skrip, tapi udah bisa menilai, ‘Ini kayaknya skripnya kalau gue improve begini kayaknya bisa lebih bagus deh.’ Karena ada knowledge tentang penulisan komedi juga. Makanya jadi banyak terserapnya di industri. Ada yang jadi penulis, sutradara, bahkan produser,” tambah Acho.

Pergeseran Selera Pasar

Pergeseran selera pasar, menurut Acho, juga memainkan peran penting. Selama bertahun-tahun, layar kaca dan bioskop Indonesia didominasi oleh standar kecantikan dan ketampanan yang eurosentris atau, meminjam istilah Acho, "orang-orang yang itu-itu saja". Komika mendobrak tembok eksklusivitas ini dengan menampilkan wajah-wajah orang kebanyakan.

Latar belakang komika yang beragam, mulai dari mahasiswa, pekerja kantoran, hingga tukang ojek, membuat mereka memiliki kedekatan emosional dengan penonton. Mereka merepresentasikan orang biasa yang berhasil menembus panggung bintang tanpa harus mengubah jati diri mereka menjadi sesuatu yang artifisial.

“Mungkin ada isu kedekatan juga. Kita berangkatnya tuh kayak dari orang kebanyakan aja. Jadi melihat dia (komika) ada di layar kaca itu seperti melihat representasi orang pada umumnya. Senang juga kali ngelihat ‘orang biasa’ tiba-tiba ada di posisi bintang,” kata Acho.

Selain itu, interaksi mereka di media sosial juga menjadi faktor pembeda. Komika cenderung lebih egaliter dan tidak berjarak dengan penggemarnya. Acho menyebut mereka “ less exclusive ” dibandingkan artis-artis papan atas yang sering kali terasa jauh dan sulit dijangkau.

Kemampuan untuk berinteraksi langsung, membalas komentar, atau melakukan siaran langsung dengan santai membuat ikatan antara komika dan basis penggemarnya menjadi sangat kuat dan loyal.

“Dan dari sisi komikanya juga ketika ditempatkan dalam posisi-posisi sebagai entertainer juga mereka tetap menjadi dirinya sendiri yang lebih organik gitu. Cara mereka berkomedi juga layaknya seperti mereka di tongkrongan. Jadi mungkin dilihat sama penonton juga, ‘Oh ini lebih dekat nih kayaknya sama gua,’ gitu pas ngelihat mereka,” tambahnya.

Meski demikian, soal larisnya jumlah penonton Agak Laen, Acho menilai hal tersebut tak semata karena kedekatan para aktornya dengan basis penggemar mereka, melainkan juga ditopang oleh faktor keterwakilan identitas.

Film tersebut berhasil menyentuh emosi penonton karena karakter-karakter yang diperankan oleh Boris Bokir; Bene Dion; Indra Jegel; dan Oki Rengga terasa dekat dengan kehidupan nyata, dan menjadi semacam representasi dari budaya, etnis dan masyarakat di Sumatera Utara.

“Mereka gak perlu susah-susah untuk berempati sama karakternya karena apa yang dialami sama empat orang ini di film itu dekat dengan kehidupan mereka. Ditambah lagi ada unsur lokalitas yang cukup kental, sehingga menimbulkan kebanggaan buat kota-kota atau suku-suku tertentu merasa dapat representasi di layar lebar,” jelas Acho.

Rasa bangga karena diwakili di layar lebar inilah, menurutnya, yang memicu keinginan penonton untuk menyebarluaskan film tersebut secara sukarela, menciptakan gelombang viral yang organik.

Selain kualitas produk, Acho juga tidak menampik peran momentum atau keberuntungan waktu tayang. Ia mencontohkan bagaimana Agak Laen tayang di momen yang sangat pas, yakni seri dua tayang awal bulan saat orang baru gajian, dan seri satu bertepatan dengan masa tenang atau libur Pemilu 2024 di mana masyarakat sedang mencari pelarian dari stres politik.

“Mungkin kita berpikir, orang lagi penat melepas stres, butuh hiburan yang murah meriah, ya mungkin bioskop salah satunya. Jadi banyak faktor yang gak bisa kita duga datangnya kapan,” ujarnya.

Namun, Acho menegaskan bahwa momentum sebaik apa pun akan sia-sia jika filmnya buruk buruk. Ia percaya pada filosofi persiapan bertemu kesempatan. Sebab, menurutnya momentum adalah variabel yang tidak bisa dikontrol, sedangkan kualitas produk adalah variabel yang sepenuhnya ada di tangan kreator.

“Daripada menunggu momentum, mendingan kita fokus nyiapin ke yang bisa kita atur. Yang bisa kita atur kan produknya, jadi siapin aja produknya sebaik mungkin, mana tahu momentumnya datang,” tutur Acho.

Industri Siniar

Apa yang disampaikan Acho ihwal kedekatan dan keterwakilan tak hanya berlaku di industri layar lebar, melainkan juga industri siniar. Rado Ardian, CEO Noice—platform streaming audio-visual lokal di bawah naungan PT Mahaka Radio Integra Tbk (MARI)—menilai faktor tersebut membuat konten-konten podcast para komika mendapat jumlah audiens yang signifikan.

“Audience banyak yang relate dengan sudut pandang dan keresahan mereka, sehingga banyak format konten yang bisa dikembangkan mulai dari video podcast, special event/live podcast, merchandise, dan banyak lainnya,” tuturnya.

Menurut Rado, sejak awal Noice memang diposisikan sebagai platform audio—sebuah medium yang menuntut kekuatan bertutur. Dalam konteks ini, komika memiliki keunggulan inheren. “Komika punya kekuatan storytelling yang kuat dalam format audio. Mereka terbiasa membangun imajinasi, ritme, dan punchline hanya lewat suara,” ujarnya.

Berbeda dengan musisi yang kerap mengandalkan pengalaman audiovisual atau performa panggung, komika justru tumbuh dalam keterbatasan medium. Kecocokan itu tercermin dalam performa konten. Berdasarkan data internal Noice, genre komedi secara konsisten menjadi konten dengan kinerja terbaik.

“Dari sisi total plays, completion rate, maupun repeat listening, komedi selalu jadi top performing content,” kata Rado.

Bahkan dalam periode tertentu seperti kampanye Ramadan, konten komedi masuk jajaran dengan engagement tertinggi—sebuah indikasi bahwa permintaannya bukan hanya besar, tetapi juga berkelanjutan. "Konten komedi mudah didengarkan sambil beraktivitas, terlebih dalam format audio. Ini merupakan format yang menyenangkan bagi para pendengar," jelasnya.

Namun, Rado menegaskan bahwa Noice tidak sekadar mengumpulkan komika populer. Kurasi dilakukan berbasis karakter dan narasi. “Kami melakukan kurasi kreator bukan sekadar dari popularitas, tapi dari karakter: apa narasi kontennya, gaya humornya seperti apa, dan seberapa kuat audience organiknya,” katanya. Pendekatan persona mapping ini, lanjutnya, membuat setiap IP memiliki audiensnya sendiri tanpa saling kanibal.

Dalam ekosistem Noice, komika juga tidak diposisikan semata sebagai talent, melainkan juga bagian dari ekosistem kreator—mulai dari pengembangan IP, distribusi, sampai monetisasi. Dukungan produksi, skema pendapatan, promosi, hingga kolaborasi brand terbuka dengan prinsip yang sama bagi semua kreator, selama performa dan potensi IP-nya kuat.

"Noice juga membuka ruang kolaborasi lintas genre, misalnya berkolaborasi dengan kreator horor, film, atau lifestyle untuk memperluas audiens masing-masing," tuturnya.

Bagi Rado, peran komika di platform audio digital hari ini mengingatkan pada fungsi penyiar radio di masa lalu. “Dulu penyiar radio jadi teman sehari-hari saat orang berkendara atau commuting. Sekarang peran itu juga dimainkan oleh komika dan kreator lain di platform digital,” katanya.

Bedanya, medium dan perilaku konsumsi audiens telah berubah—lebih personal, on-demand, dan terfragmentasi—menuntut kreator untuk terus beradaptasi tanpa kehilangan kedekatan dengan pendengarnya.

"Dalam 5 tahun ke depan, komika kemungkinan tetap menjadi salah satu pilar kuat di platform seperti Noice dengan audience yang akan semakin terdiferensiasi sesuai dengan minat/kesenangan mereka," jelas Rado.

"Tantangannya akan lebih banyak di kejenuhan format, sehingga komika pun harus tetap selalu berimprovisasi dengan format dan konten baru untuk tetap menghibur penggemarnya," tandasnya.