Kenali Tanda-Tanda Oversharing di Media Sosial
Sumber Foto: Kompas.com
Sosial

Kenali Tanda-Tanda Oversharing di Media Sosial

Agenda Nasional - KOMPAS.com – Media sosial kerap dijadikan ruang untuk berbagi cerita, perasaan, dan pengalaman hidup. Namun, tidak semua aktivitas berbagi dapat dikategorikan sebagai bentuk ekspresi yang sehat.

Dalam beberapa kondisi, seseorang justru terjebak pada perilaku oversharing atau membagikan informasi pribadi secara berlebihan tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjangnya.

Psikolog Klinis Winona Lalita R., menjelaskan, oversharing dapat dikenali dari perubahan tujuan seseorang saat membagikan konten di media sosial. Menurutnya, pergeseran tujuan ini menjadi tanda awal yang paling terlihat.

“Kalau bergeser ke yang namanya oversharing, dilihat dari aspek tujuan sudah berbeda. Biasanya apa yang diunggah hanya memuaskan diri sesaat,” kata Winona saat dihubungi Kompas.com, Senin (23/2/2026).

Salah satu tanda seseorang melakukan oversharing adalah ketika unggahan di media sosial dipenuhi oleh luapan emosi yang sangat intens dan spontan. Dalam kondisi ini, media sosial digunakan sebagai tempat pelampiasan emosi tanpa adanya proses regulasi diri.

”Misalnya, perasaanku sangat intens, daripada meregulasi emosi aku memilih untuk menumpahkannya di sosial media,” ujar Winona.

Ia menjelaskan, unggahan semacam ini sering dilakukan secara impulsif, mengikuti emosi yang sedang dirasakan saat itu juga, tanpa jeda untuk berpikir atau mempertimbangkan dampaknya.

”Hal tersebut membuat dia merasa terkoneksi atau sekadar spam dan mencurahkan apa yang dia rasa saat ini juga,” katanya.

Tidak ada filter dan melanggar privasi diri

Tanda berikutnya adalah hilangnya batasan atau filter saat membagikan cerita. Winona menyebut, dalam oversharing, seseorang kerap menceritakan hampir seluruh aspek kehidupannya tanpa menyadari bahwa ia telah melanggar privasi dirinya sendiri.

“Oversharing bisa jadi diceritain aja semuanya tanpa filter, tanpa sadar bahwa kita sendiri udah melangkahi privasi kita, hal-hal yang harusnya enggak diketahui sama orang lain,” jelasnya.

Kondisi ini membuat ruang privat menjadi kabur, karena informasi yang seharusnya bersifat personal justru disebarluaskan ke ruang publik digital.

Winona juga menyoroti aspek sensitivitas terhadap situasi sosial sebagai indikator oversharing. Ia mengatakan, seseorang yang oversharing cenderung tidak mempertimbangkan konteks atau isu yang sedang berkembang di masyarakat.