Mahasiswa Unand Dukung Pemulihan Ekonomi Padang Pascabanjir Melalui Program Mahasiswa Berdampak
Sumber Foto: Tempo.co
Ekonomi

Mahasiswa Unand Dukung Pemulihan Ekonomi Padang Pascabanjir Melalui Program Mahasiswa Berdampak

Agenda Nasional - INFO TEMPO - Di tengah sisa lumpur dan kerusakan akibat banjir bandang yang melanda Sumatera Barat pada November 2025, harapan baru tumbuh dari peternak sapi dan kambing di Kelurahan Lubuk Minturun Sungai Lareh, Kota Padang. Harapan itu datang melalui Program Mahasiswa Berdampak Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Tahun 2026, yang dilaksanakan oleh mahasiswa Peternakan Universitas Andalas.

Kelurahan Lubuk Minturun Sungai Lareh, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, menjadi salah satu wilayah yang terdampak cukup parah akibat banjir bandang November 2025. Ratusan rumah mengalami kerusakan, lahan pertanian tertimbun material, akses irigasi terganggu, serta usaha peternakan sapi dan kambing mengalami penurunan produktivitas akibat rusaknya sumber hijauan pakan.

Dua kelompok mitra utama dalam program ini adalah Kelompok Tani Harapan Nan Duo Puluah dan Kelompok Wanita Tani Lubuk Ramang yang masing-masing beranggotakan sekitar 20 orang. Sebagian anggota memelihara sapi potong, sementara lainnya mengembangkan usaha ternak kambing skala kecil. Pascabencana, mereka menghadapi berbagai persoalan, mulai dari keterbatasan pakan, manajemen usaha yang masih tradisional, hingga belum optimalnya pengelolaan limbah ternak.

Melihat kondisi tersebut, Program Mahasiswa Berdampak hadir dengan pendekatan pemberdayaan berbasis sistem usaha tani terpadu yang terintegrasi antara peternakan, pertanian, dan pengelolaan limbah ternak. Program ini diketuai oleh Dr. Fitrimawati, S.Pt., M.Si. dengan anggota tim dosen Dr. Imana Martaguri, S.Pt., M.P. dan Meisilva Erona S., S.P., M.Si. Sebanyak 50 mahasiswa lintas departemen di Fakultas Peternakan Universitas Andalas terlibat aktif sebagai pelaksana lapangan.

Mahasiswa Peternakan Universitas Andalas yang tergabung datang bukan sekadar membawa spanduk program, tetapi membawa tenaga, alat dan solusi lapangan di bawah pendanaan Kemendiktisaintek. Mahasiswa bersama tim dosen memperkenalkan sistem agrosilvopastural, yaitu integrasi tanaman pangan, tanaman kehutanan, dan peternakan dalam satu kawasan lahan.

Berbagai hijauan pakan seperti rumput gajah, odot, lamtoro, dan indigofera ditanam secara terpadu dengan tanaman pangan seperti jagung, kacang panjang dan ubi kayu. Sistem ini bertujuan menjamin ketersediaan pakan sepanjang tahun serta memperbaiki kesuburan tanah pascabanjir. Selain itu, diterapkan teknologi pakan fermentasi (silase) untuk mengatasi fluktuasi ketersediaan hijauan.

Upaya pemulihan tidak berhenti pada penyediaan pangan, pakan dan perbaikan lahan. Tim mahasiswa melihat bahwa tumpukan limbah ternak yang sebelumnya dianggap persoalan justru dapat menjadi sumber pendapatan baru bagi kelompok. Melalui program ini, mahasiswa memperkenalkan sistem produksi pupuk organik terstandar menggunakan mesin penggiling pupuk organik.

Mahasiswa juga membantu mendesain merek dan kemasan agar memiliki daya tarik pasar. Produk pupuk kini memiliki identitas dan nilai jual yang lebih tinggi dibandingkan sebelumnya. Media sosial mulai digunakan untuk promosi produk pupuk organik dan ternak. Konten dibuat secara kreatif oleh mahasiswa sehingga dapat memperluas jangkauan pasar hingga luar wilayah Lubuk Minturun.

Dalam waktu kurang dari satu bulan, program Mahasiswa Berdampak ini memberikan hasil yang terukur. Demplot agrosilvopastura mulai dimanfaatkan sebagai sumber ekonomi anggota, dan sumber hijauan pakan ternak. Pakan fermentasi tersedia secara rutin setiap dua minggu. Produk pupuk organik telah dikemas dan mulai dipasarkan ke toko pertanian serta pelaku usaha tanaman hias di wilayah Lubuk Minturun.

Sebagai program Kemendiktisaintek, Mahasiswa Berdampak tidak hanya berorientasi pada kegiatan jangka pendek, tetapi juga pada keberlanjutan usaha masyarakat. Tim pelaksana Universitas Andalas berkomitmen untuk terus melakukan pendampingan dan evaluasi agar model pemberdayaan ini dapat berkembang menjadi usaha kelompok yang mandiri dan berdaya saing.

Ketua pelaksana Fitrimawati mengatakan bahwa pemulihan pascabencana harus menyentuh aspek ekonomi produktif masyarakat. “Kolaborasi antara mahasiswa, dosen, pemerintah, dan masyarakat adalah kuncinya,” ujarnya.

Program ini menjadi bukti bahwa mahasiswa bukan sekadar agen perubahan di atas kertas. Mereka hadir, bekerja, berkeringat, dan membangun bersama masyarakat. Sementara masyarakat merasakan langsung manfaat kehadiran kampus.

Program Mahasiswa Berdampak ini tidak hanya dirancang sebagai upaya pemberdayaan masyarakat saja, tetapi juga menjadi ruang belajar nyata bagi mahasiswa sebagai bentuk penerapan metode Project Based Learning (PjBL) Program yang selesai akhir Februari 2026 ini menjadi bukti bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam pemulihan bencana dan pembangunan masyarakat. Melalui integrasi ilmu pengetahuan, teknologi tepat guna, dan semangat pengabdian, mahasiswa tidak hanya belajar, tetapi juga memberi dampak nyata bagi masyarakat. (*)