Panduan Aman Berolahraga Selama Ramadan Menurut Spesialis Jantung
Sumber Foto: UMY
Olahraga

Panduan Aman Berolahraga Selama Ramadan Menurut Spesialis Jantung

Olahraga Saat Ramadan – Ramadan merupakan bulan ibadah yang penuh makna, tetapi bukan berarti kesehatan dan kebugaran tubuh diabaikan. Puasa memang mengubah pola makan dan minum, namun aktivitas fisik tetap penting agar tubuh tetap bugar dalam menjalani aktivitas harian. Lantas, bagaimana cara berolahraga yang aman saat berpuasa?

Dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) sekaligus dokter spesialis jantung, dr. Gagah Buana Putra, Sp.JP., FIHA, menjelaskan bahwa prinsip utama olahraga adalah ketersediaan energi yang cukup. Saat puasa, tubuh tidak mendapatkan asupan makanan dan cairan selama berjam-jam, sehingga olahraga menjadi tantangan tersendiri.

Menurutnya, berolahraga dalam kondisi tubuh yang tidak fit atau tanpa cadangan energi memadai dapat berdampak buruk. Gejala seperti pusing, lemas, haus berlebihan, hingga hampir pingsan merupakan tanda bahwa tubuh mengalami kekurangan energi atau cairan. Jika kondisi tersebut muncul, aktivitas fisik tidak boleh dipaksakan. Bahkan dalam situasi tertentu, puasa perlu dibatalkan demi keselamatan.

Meski demikian, dr. Gagah menegaskan bahwa olahraga saat Ramadan tidak sepenuhnya dilarang. Kuncinya terletak pada pengaturan waktu dan intensitas. Sahur yang cukup dapat menjadi modal energi untuk beraktivitas. Namun, olahraga di siang hari sebaiknya dilakukan secara ringan dan tidak berlebihan, karena energi dari sahur masih dibutuhkan untuk menunjang aktivitas seharian.

“Secara medis, waktu terbaik untuk berolahraga adalah setelah berbuka puasa. Saat itu cadangan energi sudah terisi kembali dan risiko dehidrasi lebih kecil,” jelasnya.

Dengan tubuh yang telah memperoleh asupan makanan dan minuman, olahraga dapat dilakukan lebih aman dan nyaman tanpa khawatir terjadi hipoglikemia atau kekurangan cairan yang berbahaya.

Baca juga : Tren Kanker Usus Besar pada Anak Muda Meningkat, Ini Faktor Risikonya

Atur Intensitas, Hindari Risiko

Ia juga mengingatkan bahwa olahraga berlebihan saat puasa dapat menimbulkan risiko serius. Selain gula darah yang dapat turun drastis, kehilangan cairan dan elektrolit dalam jumlah besar dapat mengganggu fungsi jantung. Elektrolit berperan penting dalam aktivitas listrik jantung, sehingga ketidakseimbangannya berpotensi menimbulkan gangguan irama jantung. Dehidrasi berat yang tidak tertangani juga dapat memicu gangguan fungsi ginjal.

Menurut dr. Gagah, penting bagi masyarakat untuk memahami perbedaan antara olahraga rekreatif dan latihan kebugaran terukur. Aktivitas seperti tenis atau padel termasuk olahraga yang bersifat rekreatif dan bertujuan menjaga kesehatan mental. Kegiatan tersebut dapat dilakukan satu hingga dua kali seminggu, tetapi tidak disarankan terlalu sering karena risiko cedera lebih tinggi, kecuali bagi atlet dengan persiapan fisik khusus.

Olahraga Rekreatif vs Terukur

Untuk menjaga kesehatan jangka panjang, latihan yang rutin dan terukur lebih dianjurkan. Latihan aerobik seperti berjalan kaki, bersepeda, atau berenang dapat meningkatkan kapasitas jantung dan paru dalam mengolah oksigen. Intensitasnya tidak perlu berat jika tujuannya menjaga kebugaran dan kesehatan jangka panjang, namun konsistensi menjadi kunci utama.

Selain latihan aerobik, latihan kekuatan juga penting untuk menjaga massa otot dan kepadatan tulang. Massa otot yang baik membantu tubuh menggunakan energi secara lebih optimal serta mencegah penumpukan lemak berlebih.

Dalam konteks meningkatnya kasus resistensi insulin dan obesitas, latihan kekuatan menjadi bagian penting dari gaya hidup sehat. Latihan tersebut dapat disesuaikan dengan kemampuan masing-masing individu, mulai dari angkat beban ringan hingga latihan menggunakan berat badan sendiri dengan berbagai modifikasi.

Sebagai penutup, dr. Gagah menegaskan bahwa puasa merupakan ibadah utama selama Ramadan. Jika seseorang tetap ingin berolahraga saat berpuasa, maka konsekuensi dan risikonya harus dipahami. Risiko dehidrasi dan kekurangan energi tetap ada apabila olahraga dilakukan tanpa asupan.

Karena itu, memindahkan waktu olahraga setelah berbuka puasa menjadi pilihan paling aman agar ibadah tetap terjaga dan kesehatan tidak dikorbankan. Ramadan bukan alasan untuk berhenti bergerak, tetapi juga bukan waktu untuk memaksakan diri. Dengan pengaturan waktu, intensitas yang tepat, serta kesadaran terhadap kondisi tubuh, olahraga tetap dapat dilakukan secara aman dan bermanfaat sepanjang bulan suci. (Jeed)