Pendidikan Sosial Oemah Sinau Bocah: Membangun Karakter Generasi Melalui Kearifan Lokal
RRI.CO.ID, Purwokerto : Upaya penguatan sumber daya manusia tidak hanya bertumpu pada pendidikan formal saja, tetapi juga membutuhkan pendekatan sosial yang menyentuh karakter dan nilai budaya. Berangkat dari kegelisahan terhadap kondisi anak-anak yang dinilai mengalami krisis mental, karakter, dan kearifan lokal, Oemah Sinau Bocah hadir sebagai ruang belajar berbasis masyarakat.
Komunitas pendidikan sosial ini berdiri pada 28 Agustus 2016. Kegiatan pertamanya digelar di sekitar wilayah lereng gunung salah satu contohnya kawasan Limpakuwus. Dari awalnya hanya 13 anak, Oemah Sinau Bocah berkembang hingga pernah mencatat hampir 500 anak sebelum pandemi.
Kehadiran Oemah Sinau Bocah juga dilatarbelakangi realitas sosial di sekitar yang masih terdapat anak-anak yang hanya mampu menempuh pendidikan formal hingga jenjang sekolah dasar. Kondisi tersebut yang mendorong lahirnya gerakan pendidikan sosial yang tidak hanya sekadar mengajar, tetapi juga membangun semangat dan karakter.
Secara konsep, Oemah Sinau Bocah berupaya menguatkan tiga pilar pendidikan yaitu pendidikan di rumah, formal di sekolah, dan informal di lingkungan masyarakat. Selain itu, ditekankan pula tiga pilar komunikasi antara pendidik, orang tua, dan anak sebagai dasar pembentukan karakter.
"Jadi kalau metode kami, memang metode kearifan lokal yang tadi kami sampaikan bahwa berharap besar bahwa anak-anak itu akan menggunakan bahasa lokal yaitu bahasa Krama Inggil. Dengan catatan dengan bahasa Krama Inggil itu mereka rasa tanggung jawab dan rasa memiliki orang tua akan terbangun. Di sisi lain juga kami menekankan karakter. Jadi, mereka tuh harus punya rasa tanggung jawab, merasa jujur, dan mengaku kesalahan," ujar Slamet Riyanto selaku Founder Oemah Sinau Bocah, dalam dialog berjaringan Pro 1 Indonesia Cerdas.
Melalui pendidikan sosial berbasis budaya ini, Oemah Sinau Bocah berupaya menyiapkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat secara mental dan karakter. Hal ini menjelaskan bahwa penguatan SDM dapat dimulai dari komunitas, dengan menghidupkan kembali nilai-nilai lokal. (Dwinanda)




