Pertumbuhan Ekonomi Sumbar Melambat, Akademisi Soroti Masalah Struktural
Sumber Foto: Sumbardaily.com
Ekonomi

Pertumbuhan Ekonomi Sumbar Melambat, Akademisi Soroti Masalah Struktural

Agenda Nasional - Sumbardaily.com, Padang – Pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat (Sumbar) pada 2025 tercatat sebesar 3,37 persen. Angka tersebut dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Sumbar dan menunjukkan bahwa perekonomian daerah masih bergerak positif.

Namun, jika dilihat dari perspektif historis, capaian tersebut mencerminkan tren perlambatan yang berlangsung konsisten dalam lebih dari satu dekade terakhir.

Pada awal 2010-an, laju pertumbuhan ekonomi Sumbar masih berada di atas 6 persen. Setelah itu, angkanya menurun ke kisaran 5 persen, lalu stabil di sekitar 4 persen, dan dalam beberapa tahun terakhir bergerak mendekati 3 persen. Pola tersebut dinilai bukan fenomena sesaat.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas (Unand), Hefrizal Handra, menyebut perlambatan tersebut berlangsung bertahap dan konsisten.

“Pola ini tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan bertahap dan konsisten. Ini menunjukkan bahwa perlambatan bukan sekadar fluktuasi jangka pendek,” ujarnya, Sabtu (21/2/2026).

Hefrizal yang juga menjabat sebagai Wakil Rektor II Unand serta meraih gelar doktor di bidang Public Finance dari Flinders University of South Australia, menjelaskan bahwa jika perlambatan hanya dipengaruhi siklus bisnis, maka pemulihan pascapandemi seharusnya mampu mendorong pertumbuhan kembali ke kisaran 5 hingga 6 persen.

“Pemulihan memang terjadi, tetapi tidak membawa kita kembali ke lintasan pertumbuhan sebelumnya. Artinya, persoalan yang dihadapi lebih bersifat struktural,” tegasnya.

Dari sisi pengeluaran, komposisi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sumbar juga mengalami perubahan dalam satu dekade terakhir.

Pangsa konsumsi rumah tangga tercatat menurun, sementara net ekspor menunjukkan peningkatan dan investasi relatif stabil. Namun, perubahan struktur tersebut belum mampu memicu akselerasi pertumbuhan ekonomi secara signifikan.

“Masalahnya bukan pada besarnya satu komponen pengeluaran, melainkan pada kualitas struktur produksi yang mendasarinya,” jelas Hefrizal.

Ia menilai struktur lapangan usaha di Sumbar cenderung stagnan. Sektor primer seperti pertanian masih menjadi kontributor utama terhadap PDRB, tetapi proses hilirisasi dinilai berjalan lambat.

Di sisi lain, sektor industri pengolahan belum memperlihatkan peningkatan peran, bahkan cenderung mengalami penurunan kontribusi.

Sektor jasa memang menunjukkan perkembangan, namun sebagian besar pertumbuhannya mengikuti pola konsumsi domestik tanpa lonjakan nilai tambah yang signifikan. Kondisi ini dinilai menjadi salah satu faktor yang menahan akselerasi pertumbuhan ekonomi Sumbar.

Terkait sektor pariwisata yang kerap disebut sebagai mesin baru pertumbuhan, Hefrizal menyatakan kontribusinya belum optimal. Berdasarkan data, kunjungan wisatawan mancanegara dalam satu dekade terakhir relatif stagnan.

Angka kunjungan sempat mencapai puncak pada 2016, sebelum kembali berada di kisaran sekitar 56 ribu kunjungan per tahun setelah pandemi.

“Dengan basis kunjungan yang relatif kecil dan stagnan, sulit menyimpulkan bahwa pariwisata telah menjadi mesin pertumbuhan baru. Diperlukan peningkatan daya saing destinasi, konektivitas, serta integrasi rantai nilai agar dampaknya terasa lebih luas,” ungkapnya.

Menurut Hefrizal, capaian pertumbuhan 3,37 persen bukanlah sinyal krisis. Namun, angka tersebut menjadi peringatan bahwa tanpa pendalaman industri, hilirisasi pertanian yang lebih serius, serta peningkatan produktivitas sektor jasa dan pariwisata, laju pertumbuhan ekonomi Sumbar berpotensi bertahan pada level moderat di kisaran 3 hingga 4 persen.

“Tanpa pendalaman industri, hilirisasi pertanian yang serius, serta peningkatan produktivitas sektor jasa dan pariwisata, pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat kemungkinan akan bertahan pada level moderat 3–4 persen,” pungkasnya. (*)

Bagikan