Relawan Internasional AIESEC Kenali Pengelolaan Sampah dan Hidroponik di Purwokinanti
AIESEC in UPN "Veteran" Yogyakarta kembali membuka ruang kolaborasi internasional melalui program incoming Global Volunteer (iGV) Winter Peak 2025. Program volunteering ini diselenggarakan selama kurang lebih enam minggu, mulai dari 22 Desember 2025 hingga 2 Februari 2026 yang menjadi wadah bagi pemuda dari berbagai negara untuk berkontribusi langsung pada isu sosial dan lingkungan di Yogyakarta.
incoming Global Volunteer Winter Peak 2025 menghadirkan relawan internasional yang disebut Exchange Participant (EP) serta relawan lokal yang dikenal sebagai Local Volunteer (LV). Para relawan tidak hanya bekerja sama dalam berbagai agenda sosial tetapi juga saling belajar, bertukar perspektif, dan membangun pemahaman lintas budaya. Melalui interaksi sehari-hari, AIESEC in UPNVY ingin menciptakan pengalaman global yang terasa dekat, relevan, dan berdampak nyata bagi lingkungan sekitar.
Setelah melalui rangkaian agenda pembuka yang mempertemukan seluruh EP dan LV, AIESEC in UPNVY mulai mengajak para relawan untuk terjun langsung mengenal lingkungan tempat mereka akan berkontribusi. Salah satu agenda awal yang dirancang untuk tujuan tersebut adalah "Strolling Around at Purwokinanti" yang dilaksanakan pada 26 Desember 2025. Agenda ini menjadi momen penting bagi para relawan untuk mengenal lebih dekat Kelurahan Purwokinanti sebagai lokasi utama kegiatan iGV Winter Peak 2025.
Pemilihan Kelurahan Purwokinanti bukan tanpa alasan. Kelurahan ini dikenal sebagai salah satu wilayah di Yogyakarta yang aktif, maju, dan memiliki kepedulian tinggi terhadap isu pengelolaan sampah serta lingkungan. Agenda "Strolling Around at Purwokinanti" diawali dengan pengenalan berbagai tanaman hidroponik yang dikelola langsung oleh pihak kelurahan. Para EP dan LV diajak melihat secara langsung bagaimana sistem hidroponik diterapkan di lingkungan masyarakat. Menariknya, beberapa tanaman tersebut menggunakan pupuk yang juga diolah secara mandiri oleh Kelurahan Purwokinanti dari pengelolaan sampah organik warga. Hal ini memberikan gambaran nyata bahwa pengelolaan sampah tidak selalu berakhir di tempat pembuangan tetapi bisa kembali memberi manfaat bagi lingkungan.
Dalam sesi ini, para relawan, termasuk Shary (EP) bersama Audrey, Anela, Fikra, Thania, Zaki, Dio (LV) juga mempelajari proses pengambilan pupuk dari lapisan tanah terdalam. Pupuk tersebut merupakan hasil olahan dari sisa-sisa makanan dan sampah organik yang telah melalui proses penguraian. Proses ini membuka wawasan baru bagi para relawan tentang bagaimana sampah rumah tangga dapat diolah menjadi sesuatu yang berguna dan ramah lingkungan.
Selain tanaman hidroponik, para EP dan LV juga diperkenalkan dengan berbagai jenis tanaman lain yang tumbuh di kawasan tersebut, seperti kemangi dan lidah buaya. Penanaman lidah buaya memiliki makna tersendiri, karena tanaman ini merupakan salah satu tanaman yang dilindungi oleh Keraton Yogyakarta. Informasi ini menjadi pengalaman menarik bagi para relawan internasional karena tidak hanya belajar tentang lingkungan tetapi juga mengenal nilai budaya yang melekat pada praktik pelestarian alam di Yogyakarta. Beberapa tanaman lain yang ditanam di kawasan ini juga merupakan tanaman berbuah yang nantinya dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar.
Perjalanan kemudian dilanjutkan ke Bank Sampah yang dikelola langsung oleh masyarakat Kelurahan Purwokinanti. Bank Sampah ini menjadi salah satu bentuk nyata upaya kolektif warga dalam mengelola sampah secara berkelanjutan. Melalui sistem ini, masyarakat dibiasakan untuk lebih peduli dan sadar terhadap sampah yang mereka hasilkan setiap hari. Sampah tidak lagi dipandang sebagai limbah semata, melainkan sebagai sesuatu yang memiliki nilai jika dikelola dengan baik.
Kelurahan Purwokinanti juga memberikan himbauan kepada warganya untuk memilah sampah berdasarkan jenisnya, seperti sampah organik dan anorganik. Kebiasaan sederhana ini menjadi pondasi penting dalam menciptakan sistem pengelolaan sampah yang efektif. Bagi para EP dan LV, kunjungan ke Bank Sampah ini menjadi pembelajaran langsung tentang bagaimana perubahan perilaku individu dan komunitas dapat memberikan dampak besar bagi lingkungan.
"Dengan adanya kegiatan "Strolling Around at Purwokinanti", saya jadi melihat langsung bagaimana pengelolaan sampah bisa benar-benar diterapkan di lingkungan masyarakat. Melihat proses hidroponik dan Bank Sampah membuat saya sadar bahwa perubahan bisa dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten. Pengalaman ini membuat saya semakin yakin bahwa project iGV Winter Peak 2025 membawa dampak nyata, bukan hanya bagi masyarakat tetapi juga bagi kami sebagai relawan," ujar Dio, salah satu Local Volunteer iGV Winter Peak 2025.
Sebagai penutup agenda "Strolling Around at Purwokinanti", para relawan diajak mengunjungi salah satu balai kelurahan. Di sana, para EP dan LV disuguhkan penampilan tari tradisional Yogyakarta yang dibawakan dengan penuh makna dan keindahan. Tidak hanya menonton, para relawan juga diajak untuk ikut belajar dan mencoba menarikan tarian tersebut. Suasana menjadi hangat dan penuh tawa ketika para relawan internasional dan lokal bersama-sama mencoba mengikuti gerakan tari, menciptakan momen kebersamaan yang tak terlupakan.




