44 Negara Dukung Agenda Dedolarisasi BRICS
Sejumlah 44 negara telah mengambil langkah untuk menyelaraskan diri dengan agenda dedolarisasi yang diprakarsai oleh aliansi BRICS. Aliansi ini terdiri dari 11 negara yang berusaha untuk merombak kebijakan perdagangan demi keuntungan ekonomi dan mata uang nasional mereka, dengan mengesampingkan penggunaan dolar AS.
Pergeseran ini terhadap dolar AS, yang sering disebut sebagai greenback, semakin cepat terjadi di kalangan negara-negara berkembang. Banyak dari negara-negara ini mulai menarik investasi ke negara asal mereka dan mengurangi ketergantungan terhadap instrumen keuangan yang berbasis di AS, seperti obligasi. Sebagai gantinya, mereka mulai mengakumulasi cadangan emas dan mata uang lokal.
Kebijakan ekonomi yang diterapkan oleh Gedung Putih, mulai dari tarif perdagangan yang diperkenalkan oleh mantan Presiden Donald Trump hingga konflik perdagangan dan dominasi global Amerika, telah menyebabkan kesulitan keuangan yang signifikan bagi negara-negara berkembang. Dalam konteks ini, dukungan terhadap BRICS semakin kuat, karena blok ini mempromosikan agenda dedolarisasi.
Situasi ini membuat posisi AS di panggung global semakin terisolasi. Bahkan Uni Eropa, yang merupakan sekutu utama AS, kini tengah mempertimbangkan penggunaan euro dalam transaksi internasional. Beberapa pemimpin Eropa secara terbuka menyerukan pengurangan ketergantungan pada dolar AS dan lebih fokus pada aset-aset Eropa.




