Aniqotul Ummah Raih Gelar Doktor Melalui Penelitian Gerakan Sosial Keagamaan
Agenda Nasional - Aniqotul Ummah resmi menjadi doktor dalam bidang ilmu politik setelah mempertahankan disertasinya yang berjudul Proses Perubahan Gerakan Sosial Keagamaan di Indonesia: Studi Kasus Gerakan Aksi Bela Islam (ABI) Tahun 2016–2019 pada promosi doktor Rabu (11/02) di Auditorium Mochtar Riady, FISIP UI, Depok.
Dalam penelitiannya, Aniqotul memandang perubahan gerakan bukan sebagai proses yang langsung dan linear, melainkan berlangsung secara bertahap, saling terkait, dan dipengaruhi berbagai faktor. Perubahan tersebut dibentuk oleh interaksi antara peluang politik, struktur mobilisasi, dan cara gerakan membingkai isu. Penelitian ini juga tidak berasumsi bahwa mobilisasi besar otomatis menghasilkan organisasi atau institusi yang stabil dan mapan.
Aniqotul menjelaskan penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus tunggal instrumental. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam serta studi dokumentasi terhadap jejak organisasi dan arsip terkait ABI. Analisis dilakukan secara prosesual, yakni dengan menelusuri rangkaian peristiwa dan mekanisme perubahan secara runtut. Keabsahan data diperkuat melalui triangulasi, member checking, dan refleksivitas.
“Secara teoretis, penelitian ini menggunakan Political Process Theory (PPT) sebagai kerangka analisis utama untuk menjelaskan mekanisme relasional dalam perubahan gerakan. Sementara itu, pendekatan Protests as Critical Junctures (PCJ) digunakan secara terbatas sebagai lensa temporal untuk memahami fase perubahan setelah peristiwa bermomentum tinggi,” jelas Aniqotul.
Ia memaparkan hasil penelitiannya yang menunjukkan bahwa setelah Aksi 212, ABI bergerak dalam konfigurasi yang lebih cair dan terdiferensiasi. Terjadi retakan dalam otoritas dan orientasi gerakan yang memunculkan variasi strategi, perubahan hubungan antaraktor, serta penyebaran berbagai inisiatif kolektif.
“Pada fase yang disebut sebagai sedimenting, proses “pengendapan” perubahan berlangsung secara parsial dan selektif. Unsur yang relatif bertahan adalah memori kolektif, simbol, dan bahasa moral gerakan. Namun, penguatan dalam bentuk organisasi, koalisi, maupun institusi cenderung terbatas. Hal ini dipengaruhi oleh menyempitnya peluang politik, keterbatasan kapasitas organisasi, serta fragmentasi makna di dalam gerakan itu sendiri,” ungkap Aniqotul.
Kebaruan disertasi ini terletak pada cara melihat ABI bukan hanya sebagai peristiwa puncak mobilisasi, tetapi sebagai proses pascamobilisasi yang terus berkembang. Selain itu, konsep legacy dimaknai sebagai bentuk pengendapan perubahan yang tidak merata di berbagai arena.




