Hari Peduli Sampah Nasional: Ancaman Mikroplastik dalam Tubuh Manusia
Mikroplastik kini sudah menyusup jauh ke dalam tubuh manusia, termasuk darah, paru-paru, dan bahkan otak.
Nationalgeographic.co.id— Tepat hari ini, Sabtu, 21 Februari 2026, Indonesia kembali memperingati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN).
Momentum ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan pengingat tragis atas peristiwa longsornya TPA Leuwigajah di Cimahi, Jawa Barat, pada 21 Februari 2005 silam. Tragedi yang menewaskan ratusan jiwa akibat pengelolaan sampah yang buruk tersebut menjadi dasar penetapan HPSN melalui Keputusan Presiden RI No. 21 Tahun 2018.
Kini, dua dekade setelah peristiwa Leuwigajah, tantangan sampah telah berevolusi dari tumpukan kasat mata di permukaan tanah menjadi partikel mikroskopis yang menyusup jauh ke dalam sistem biologis manusia.
Data terakhir dari Sistem Informasi Pengolahan Sampah Nasional (SIPSN) menunjukkan bahwa pada 2023, timbunan sampah nasional telah menyentuh angka 31,9 juta ton, di mana 11,3 juta ton di antaranya tidak terkelola.
Di balik angka-angka tersebut, muncul ancaman yang lebih senyap yakni infiltrasi mikroplastik dan nanoplastik ke dalam tubuh.
Lantas, sejauh mana polutan ini telah bergerak di dalam aliran darah dan jaringan saraf kita? Bagaimana keterkaitannya dengan risiko penyakit degeneratif seperti demensia?
Invasi Plastik dalam Sistem Peredaran Darah dan Jaringan Tubuh
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Environment International memberikan fakta yang mengejutkan mengenai keberadaan plastik dalam tubuh manusia. Melalui analisis terhadap 22 donor sehat, ilmuwan menemukan partikel plastik pada 17 di antaranya, atau hampir 80% dari total sampel.
Profesor Dick Vethaak, seorang ekotoksikolog dari Vrije Universiteit Amsterdam, menyatakan kepada The Guardian bahwa ini adalah bukti pertama adanya partikel polimer dalam darah manusia.
Jenis plastik yang paling dominan ditemukan adalah PET (polyethylene terephthalate) yang biasa digunakan pada botol minuman, diikuti oleh polistirena untuk pengemasan makanan, dan polietilena yang menjadi bahan dasar kantong plastik.
Temuan ini menandakan bahwa plastik tidak hanya sekadar melewati sistem pencernaan, tetapi mampu masuk ke aliran darah dan berpotensi menetap di organ-organ vital. Ancaman ini bahkan sudah dimulai sejak dini; riset menunjukkan bahwa bayi yang diberi susu melalui botol plastik dapat menelan jutaan partikel mikroplastik setiap harinya.
Baca Juga: Orlando Bloom Jalani Metode Pembersihan Mikroplastik di Tubuhnya, Kenapa Disebut Ironi?
Halaman:
1 2 3
Tag:
Otak Darah Paru Paru Mikroplastik Hari Peduli Sampah Nasional
Mutakhir
Populer




