Jalan TransPapua Jayapura-Wamena Dorong Perekonomian Papua Pegunungan
Wamena (ANTARA) - Jalan TransPapua Jayapura-Wamena, sepanjang kurang lebih 575 kilometer, hingga 585 kilometer, mulai dikerjakan pada era Presiden kedua RI Soeharto di pertengahan tahun 1990-an, ditandai dengan dibangunnya Jembatan Meteor 235 meter di atas Sungai Mamberamo.
Meteor merupakan jembatan suspensi atau gantung pertama yang dibangun oleh Pemerintah Republik Indonesia, dengan sangat presisi di daratan Tanah Papua. Kala itu, daerah tersebut berada di pedalaman Papua.
Jembatan inilah yang menjadi saksi dimulainya proyek besar pembangunan ruas jalan Jayapura-Wamena sejak pertengahan 1990-an, hingga saat ini, dengan membelah rimbunnya hutan Papua serta melewati tiga kabupaten, yakni Keerom dan Jayapura (Provinsi Papua) serta Yalimo, Provinsi Papua Pegunungan.
Pembangunan jalan Jayapura-Wamena merupakan terobosan baru, karena akses dari Jayapura ke Wamena atau kabupaten lain di Papua Pegunungan, selama ini hanya dapat dilayani dengan jalur udara.
Kondisi tanah yang labil, ditambah faktor keamanan yang kurang kondusif menjadi kendala utama dalam proses pengerjaan pembangunan ruas jalan Jayapura-Wamena, yang hingga kini belum rampung.
Jalan TransPapua Jayapura-Wamena hampir sama dengan jarak dari Jakarta ke Yogyakarta, sepanjang 550-580 kilometer, yang dapat ditempuh 7-10 jam menggunakan jalan tol transJawa.
Sementara waktu yang dapat ditempuh dari Jayapura ke Wamena atau sebaliknya, bisa mencapai 14 hari atau lebih, tergantung cuaca di pedalaman Papua yang sering berubah-ubah.
Alat transportasi yang dapat digunakan, saat ini, untuk melewati jalur TransPapua Jayapura-Wamena adalah kendaraan dengan sistem penggerak empat roda (4x4) yang ideal untuk medan berat atau off road.
Gubernur Papua Pegunungan John Tabo mengatakan cara utama yang dapat menurunkan inflasi dan mahalnya harga-harga di wilayah itu adalah pengerjaan infrastruktur jalan yang optimal.
Penyediaan indrastruktur itu merupakan cara paling tepat untuk menurunkan tingkat kemahalan di wilayah Provinsi Papua Pegunungan. Melambungnya harga barang di Provinsi Papua Pegunungan disebabkan karena semua barang dikirim dari Jayapura atau daerah lain di Papua, dengan biaya satuan berat per kilogramnya mencapai Rp10.000 hingga Rp13.000.
Meskipun ada kebijakan dari pemerintah pusat, melalui Kementerian Perhubungan, dengan program "tol udara", namun sejauh ini cara itu belum efektif karena masih sangat terbatas.
Program "tol udara" hanya dapat berlaku, ketika pengiriman barang apapun melalui Timika, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, sementara dari dan ke Wamena melalui Jayapura atau daerah lain di Papua belum bisa diterapkan.
Tingginya harga barang di Wamena, sebagai pintu masuk utama ke wilayah Provinsi Papua Pegunungan tergantung terhadap tinggi rendahnya harga barang di Timika. Oleh sebab itu, jalan TransPapua Jayapura-Wamena menjadi urat nadi utama dalam peredaran perekonomian di daerah tersebut.
Data terbaru, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mengalokasikan dana sekitar Rp3,3 triliun hingga Rp3,53 triliun untuk pembangunan jalan trans tersebut, khususnya untuk segmen Mamberamo Raya, Provinsi Papua, hingga Elelim, Kabupaten Yalimo, Provinsi Papua Pegunungan.
Kementerian PU, melalui Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Papua, telah mengerjakan ruas jalan Jayapura-Wamena 340 kilometer, khususnya segmen Distrik Senggi, Kabupaten Keerom, hingga ke Distrik Airu, Jembatan Meteor, Kabupaten Jayapura, dengan pengaspalan, sehingga memudahkan kendaraan yang melaju di atasnya.
Bupati Jayawijaya Atenius Murib memastikan ketika ruas jalan TransPapua Jayapura-Wamena selesai dikerjakan, maka harga bahan pokok dan bahan bangunan dapat ditekan, sehingga perekonomian warga dapat terus meningkat.
Sebagai contoh, harga semen satu sak di Kota Wamena, Kabupaten Jayawijaya, kurang lebih Rp400.000 hingga Rp500.000, begitu pula dengan harga air mineral 1,5 liter Rp25.000 per botol. Tingginya harga barang di wilayah Papua Pegunungan karena akses jalan darat belum rampung dikerjakan dan tingginya tarif harga muatan jika menggunakan pesawat udara.
Ruas jalan Jayapura-Wamena yang selalu menjadi hambatan pengemudi roda dua, empat, dan enam, mulai dari Jembatan Meteor yang berada di kilometer 279+150 Distrik Airu, Kabupaten Jayapura, hingga ke Distrik Elelim, Kabupaten Yalimo, Papua Pegunungan, yang berjarak 100-150 kilometer.
Labilnya tanah, tingkat kemiringan jalan yang hampir 90 derajat dan adanya jurang ratusan meter serta sering terjadi hujan menjadi hal utama yang menyebabkan kerusakan, hingga gangguan dalam perjalanan.
BBPJN Papua, beberapa waktu lalu mengerjakan jembatan bailey di Kali Kill yang hanyut akibat longsor di jalan TransPapua Jayapura-Wamena, sehingga memutus akses transportasi tersebut.
"Pengerjaan ini dilakukan sebagai langkah cepat untuk memulihkan akses transportasi darat yang sebelumnya terganggu akibat bencana longsor," kata Penjabat Pembuat Komitmen (PPK) Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) Jalan TransPapua Jayapura-Wamena Febryan Nurdiansyah.
Badan Pusat Statistik atau BPS Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, mengatakan cara untuk mencegah kenaikan inflasi yang beberapa waktu lalu sempat menembus 8 persen adalah dengan segera mendorong segera selesainya pengerjaan ruas jalan Jayapura-Wamena.
Menurut Kepala BPS Kabupaten Jayawijaya Arther L Purmiasa, tingginya harga barang, baik bahan pokok maupun bahan bangunan, disebabkan karena transportasi dari dan ke Wamena hanya menggunakan pesawat udara.
Semua percaya, jika jalan darat selesai dikerjakan, maka harga bahan pokok dan bahan bangunan pasti turun.
Dengan adanya daerah otonomi baru (DOB) Provinsi Papua Pegunungan, pemerintah pusat mulai membuka mata agar pemekaran daerah ini memiliki akses yang sama dengan daerah lainnya di Tanah Air.
Provinsi Papua Pegunungan menjadi satu-satunya daerah di Indonesia yang tidak memiliki batas pantai dan laut. Seluruh akses transportasi di daerah ini, baik untuk manusia maupun barang, hanya melalui jalur pesawat udara.
Oleh sebab itu, jalan darat menjadi harapan besar bagi pemerintah dan masyarakat Papua Pegunungan untuk dapat hidup sejajar dengan daerah lain di Indonesia.
Jalan TransPapua Jayapura-Wamena, ketika selesai dikerjakan, maka kendaraan dengan muatan bahan pokok dan bahan bangunan bisa menempuh perjalanan kurang dari dua hari, sehingga dapat membantu meningkatkan perekonomian di wilayah Provinsi Papua Pegunungan.
Harga-harga barang yang melambung tinggi bisa ditekan, hingga sama dengan daerah lain, khususnya Jayapura, Provinsi Papua. Masyarakat yang tadinya kesulitan memiliki bahan pokok, seperti beras yang harganya Rp23.000 hingga Rp27.000 per kilogram, bisa memperoleh harga yang terjangkau.




