Konflik Timur Tengah Jadi Fokus Utama KTT Uni Eropa dan Negara-negara Teluk
Sumber Foto: Voice of America Indonesia
Agenda Negara

Konflik Timur Tengah Jadi Fokus Utama KTT Uni Eropa dan Negara-negara Teluk

Pada pekan ini, para pemimpin Uni Eropa dan negara-negara Teluk akan bertemu di Brussels untuk membahas sejumlah isu penting, dengan fokus utama pada upaya menghindari "konflik meluas" di Timur Tengah. Pertemuan ini dijadwalkan berlangsung pada Rabu, 16 Oktober, dan diharapkan dihadiri oleh Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, bersama dengan kepala negara dan pemerintahan dari enam negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (Gulf Cooperation Council/GCC).

Selain isu konflik yang saat ini melanda Israel, Gaza, dan Lebanon, agenda pertemuan juga mencakup diskusi mengenai perdagangan, energi, dan perubahan iklim. Namun, menurut para pejabat Uni Eropa, situasi di Timur Tengah, khususnya risiko perang yang lebih luas, diperkirakan akan menjadi topik utama dalam pertemuan tersebut.

"Salah satu tujuan dari pertemuan ini adalah untuk menghindari konflik meluas," ungkap seorang pejabat Uni Eropa. Ia menambahkan bahwa kedua belah pihak memiliki kekhawatiran yang sama terkait stabilitas kawasan.

Uni Eropa yang terdiri dari 27 negara, berupaya menjalin hubungan yang lebih erat dengan negara-negara GCC, yang meliputi Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Meskipun Uni Eropa merupakan mitra dagang terbesar kedua bagi negara-negara GCC, pembicaraan mengenai perjanjian perdagangan telah berlangsung lama dan diwarnai dengan perbedaan pandangan mengenai berbagai isu, termasuk konflik di Ukraina.

Seorang pejabat lainnya menyatakan, "Kami melihat lebih banyak kesamaan pandangan mengenai Timur Tengah," menandakan adanya niat untuk memperkuat kerja sama di area tersebut.

Pertemuan ini terjadi di tengah meningkatnya serangan Israel terhadap militan Hizbullah di Lebanon, yang semakin menambah kompleksitas situasi di kawasan tersebut. Josep Borrell, kepala diplomasi Uni Eropa, menjelaskan bahwa kedua pihak memiliki kekhawatiran yang sama terkait perdamaian dan keamanan di seluruh kawasan.

Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, dan Borrell dijadwalkan akan turut serta dalam pertemuan ini, bersama dengan para pemimpin dari 27 negara anggota Uni Eropa. Meskipun Uni Eropa belum mengonfirmasi siapa saja pemimpin GCC yang akan hadir, Saudi Press Agency telah mengumumkan kehadiran Pangeran Mohammed bin Salman.

Uni Eropa telah menyerukan gencatan senjata di Lebanon dan Gaza, menyadari bahwa sebagai sekutu Barat, negara-negara monarki Teluk yang kaya akan sumber daya alam semakin dekat dengan Iran, yang dikenal sebagai pendukung Hamas di Gaza dan Hizbullah di Lebanon. Negara-negara Teluk juga telah mendesak pembentukan negara Palestina yang berdampingan dengan Israel dan beberapa di antaranya berperan aktif dalam negosiasi untuk mencapai gencatan senjata di Gaza.

"Kami siap untuk bertindak lebih dan meningkatkan kerja sama dalam menghadapi tantangan bersama," kata Borrell, menegaskan komitmen Uni Eropa untuk bekerja sama dengan negara-negara GCC dalam menangani isu-isu yang dihadapi di kawasan.