Lebih dari 100 Negara Terdampak Degradasi Lahan, Pelestarian Lingkungan Menjadi Agenda Bersama
Sumber Foto: Jawa Pos
Agenda Negara

Lebih dari 100 Negara Terdampak Degradasi Lahan, Pelestarian Lingkungan Menjadi Agenda Bersama

Lebih dari 100 negara di seluruh dunia saat ini menghadapi tantangan serius akibat degradasi lahan dan kekeringan, yang berpotensi mengancam ketahanan pangan serta ketersediaan air secara global. Data dari United Nations Convention to Combat Desertification (UNCCD) menunjukkan bahwa kondisi ini memerlukan perhatian serius dari berbagai pihak.

Dalam rangka mengatasi tantangan lingkungan yang semakin mendesak, pelestarian lingkungan tidak hanya harus dilakukan secara simbolis, tetapi juga harus menjadi agenda penting lintas sektor, termasuk oleh pelaku usaha. Hal ini ditegaskan oleh PT Pelabuhan Indonesia (Persero), atau Pelindo, yang pada peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, melakukan penanaman sekitar 40 ribu pohon secara serentak di empat regional dan empat subholding perusahaan.

Aksi penanaman pohon ini merupakan bagian dari program Pelindo Communitree, yang dirancang untuk memulihkan kawasan pelabuhan dan lingkungan di sekitarnya, memperkuat sabuk hijau, serta meningkatkan ketahanan terhadap dampak perubahan iklim. Tema global tahun ini, “Land Restoration, Desertification and Drought Resilience,” semakin menegaskan relevansi langkah-langkah yang diambil oleh Pelindo.

Direktur SDM dan Umum Pelindo, Ihsanuddin Usman, menegaskan bahwa penanaman pohon bukan sekadar acara seremonial, tetapi merupakan komitmen berkelanjutan perusahaan terhadap pelestarian lingkungan. Menurutnya, pelabuhan sebagai simpul penting logistik nasional memiliki posisi strategis, namun juga rentan terhadap berbagai tekanan lingkungan seperti polusi, abrasi, dan kenaikan muka air laut, yang memerlukan langkah mitigasi yang berkelanjutan.

“Pelestarian kawasan hijau di sekitar pelabuhan bukan hanya soal tanggung jawab sosial, tetapi juga bagian dari strategi menjaga ketahanan operasional,” ujarnya.

Selain penanaman pohon, Pelindo juga melaksanakan berbagai kegiatan berbasis lingkungan lainnya, seperti penataan kampung di sekitar pelabuhan dengan pendekatan pelestarian pesisir serta lomba konten digital edukatif yang melibatkan masyarakat lokal. Pelibatan aktif warga menjadi bagian dari strategi Pelindo dalam membangun ekosistem kolaboratif untuk pelestarian alam.

Ihsanuddin menjelaskan bahwa kegiatan tanam pohon memberikan banyak manfaat lingkungan, termasuk penyerapan karbon, pencegahan erosi dan banjir, peningkatan kualitas udara, serta penyediaan habitat bagi keanekaragaman hayati. “Ini adalah investasi jangka panjang untuk bumi dan juga untuk keberlanjutan bisnis,” tuturnya.

Ia juga menekankan bahwa keberlanjutan merupakan elemen penting dalam strategi jangka panjang Pelindo untuk membangun pelabuhan yang tangguh, aman, dan ramah lingkungan. “Kami berkontribusi dalam pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama poin 13 tentang perubahan iklim dan poin 15 tentang kehidupan di darat,” tegasnya.

Dalam konteks krisis iklim dan degradasi lingkungan yang semakin mendalam, tindakan nyata seperti yang dilakukan oleh Pelindo menunjukkan bahwa sektor industri memiliki peran strategis dalam merestorasi ekosistem. Pelestarian lingkungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau aktivis, tetapi merupakan tugas bersama demi masa depan yang lebih lestari.