Negara, Oligarki, dan Politik Kelas: Menelusuri Akar Krisis Demokrasi di Indonesia
Sumber Foto: BandungBergerak.id
Agenda Negara

Negara, Oligarki, dan Politik Kelas: Menelusuri Akar Krisis Demokrasi di Indonesia

Demokrasi di Indonesia saat ini menghadapi tantangan serius, seperti yang diungkapkan oleh sejumlah peneliti. Penurunan kualitas demokrasi ini terlihat dari menyempitnya ruang sipil politik dan meningkatnya kesenjangan ekonomi. Dengan disahkannya sejumlah undang-undang seperti UU Cipta Kerja dan Revisi UU KUHP, penting untuk kembali menelaah akar dari kemunduran demokrasi yang terjadi.

Pengertian Demokrasi dan Realitasnya di Indonesia

Demokrasi umumnya dipahami sebagai kekuasaan rakyat, di mana rakyat memiliki hak untuk memilih pemimpin mereka sendiri. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan adanya ketimpangan dalam ruang sipil politik. Hal ini menciptakan kesenjangan antara pemahaman ideal tentang demokrasi dan praktik yang terjadi, di mana kekuasaan sering terpusat pada elit, sementara kelompok terpinggirkan, termasuk perempuan dan masyarakat miskin, tidak memiliki suara yang setara.

Bias Elit dan Ketimpangan dalam Sistem Demokrasi

Ketidakadilan dalam sistem demokrasi perlu diakui, di mana rezim demokratis justru sering membatasi upaya mencapai kesetaraan. Sejarah politik Indonesia, khususnya sejak era Orde Baru, menunjukkan bahwa struktur kekuasaan terus mereproduksi ketimpangan. Oligarki yang berkuasa memanfaatkan lembaga-lembaga demokrasi untuk memperkuat posisi mereka, tanpa mengatasi ketimpangan yang ada.

Korupsi dan Pelanggaran Hak Asasi Manusia

Meskipun norma hak asasi manusia diakui dalam konstitusi, pelanggaran hak asasi manusia masih terjadi, dan korupsi tetap menjadi masalah serius. Jaringan oligarki terus bertahan dan mengkonsolidasikan kekuasaan, terutama di bawah pemerintahan Joko Widodo yang dinilai mengakomodasi tokoh-tokoh militer dan politisi korup.

Kelemahan Gerakan Politik Masyarakat Sipil

Kelompok masyarakat sipil di Indonesia dipandang lemah dalam agenda politiknya untuk menantang kepentingan oligarki. Banyak organisasi non-pemerintah (NGO) lebih fokus pada advokasi perubahan kelembagaan tanpa mengubah struktur kekuasaan yang mendasari ketimpangan. Meskipun demikian, ada kesadaran di kalangan masyarakat sipil bahwa negara adalah ruang yang harus direbut, beriringan dengan meningkatnya aspirasi publik terkait kesejahteraan sosial.

Politik Kesejahteraan dan Perjuangan Kelas

Pengalaman negara-negara kesejahteraan menunjukkan bahwa mobilisasi kelas pekerja yang terorganisir adalah kunci untuk mencapai agenda kesejahteraan yang konsisten. Di Indonesia, elit lokal dapat menyediakan pelayanan kesejahteraan untuk mendapatkan dukungan politik. Namun, agenda kesejahteraan juga dapat dimanfaatkan oleh kalangan neoliberal untuk mendukung akumulasi kapital.

Membangun Politik Kelas Pekerja

Untuk mengatasi tantangan ini, diperlukan upaya memperkuat politik kelas pekerja. Pembangunan partai politik berbasis kelas menjadi solusi yang penting. Namun, berbagai produk hukum yang ditetapkan oleh oligarki membuat gerakan rakyat sulit untuk berpartisipasi secara efektif dalam proses politik. Misalnya, syarat yang berat untuk mendirikan partai dan batasan sumbangan dari perusahaan memperbesar pengaruh kapital dalam politik.

Pentingnya Merevisi Undang-Undang Politik

Penggunaan undang-undang yang tidak demokratis, seperti UU Partai Politik, menjadi tantangan bagi gerakan rakyat yang ingin berpartisipasi dalam pemilu. Momen Pemilu 2019 bisa menjadi kesempatan untuk mempermasalahkan kembali undang-undang politik yang menghambat demokrasi. Meski ada harapan untuk demokrasi di Indonesia, dominasi kepentingan oligarki masih memperdalam tantangan terhadap praktik politik yang demokratis.