Pedagang Aceh Tamiang Pulihkan Ekonomi Melalui Usaha Takjil Ramadan
Ramadan tahun ini bukan sekadar bulan ibadah bagi warga Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh. Di balik hiruk-pikuk pasar takjil, tersimpan semangat bangkit dari luka banjir bandang yang melanda kawasan itu pada akhir November 2025.
Sejumlah warga mengaku, Ramadan menjadi momen penting untuk memulihkan roda perekonomian keluarga yang sempat terhenti akibat bencana.
“Alhamdulillah jualannya laris, ini memang satu-satunya (bisnis saya),” ujar Lilis (50), pedagang lincah mameh di Pasar Simpang Upah, Aceh Tamiang, Jumat (20/2/2026).
Lincah mameh merupakan es rujak manis yang menjadi salah satu menu takjil khas Aceh.
Bagi Lilis, kuliner tersebut bukan sekadar sajian berbuka, melainkan tumpuan hidup keluarga.
Ia bersama keponakannya berjualan di Aceh Tamiang, sementara anak-anak dan suaminya berjualan di Lhokseumawe. Ramadan menjadi musim panen bagi usaha mereka.
Lilis menambahkan, lincah mameh paling laku ketika dijual pada bulan Ramadan, sebab menjadi salah satu kuliner khas Ramadhan di Aceh.
Momentum tersebut dimanfaatkan untuk memulihkan kondisi ekonomi setelah rumahnya terdampak banjir.
“Abis, Dik, rumah saya. Bangunannya masih ada, tapi isinya hanyut semua,” kata Lilis.
Kini, ia menjual satu porsi lincah mameh seharga Rp10 ribu. Meski baru hari kedua berjualan, hasilnya cukup menggembirakan.
“Kemarin habis, dapatnya mungkin Rp1,2 juta,” ujarnya.
Di tengah upaya bangkit tersebut, Lilis bersyukur atas kebijakan relaksasi kredit bagi pelaku UMKM terdampak bencana.
“Kami kan punya kredit di bank. Alhamdulillah tiga bulan pembebasan (relaksasi) tidak dipotong bank. Jadi (uangnya) bisa diusahakan lagi,” ujar Lilis.
Semangat serupa juga dirasakan Yatini, pedagang takjil lainnya. Ramadan menjadi titik awal menghidupkan kembali ekonomi keluarga.
Ia menjual gorengan, kue-kue kecil, hingga mie caluk khas Aceh untuk hidangan berbuka.
“Ini hari kedua jualan takjil. (Kemarin) laris, Insya Allah laris,” kata Yatini.
Modal usaha diperoleh dari menantunya. Dengan tekad kuat, Yatini memanfaatkan momen Ramadan untuk menggerakkan kembali roda ekonomi keluarga.
Seperti Lilis, ia memperkirakan pendapatannya bisa mencapai sekitar Rp1 juta per hari
98 persen UMKM Mulai Aktif Kembali
Di level kebijakan, dukungan terhadap UMKM terus diupayakan.
Kepala Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian, dan Perdagangan Kabupaten Aceh Tamiang, Ibnu Azis, melaporkan 98 persen UMKM mulai aktif kembali pascabanjir bandang November 2025.
Pemerintah daerah juga mendorong perbankan memberi relaksasi kepada pelaku UMKM yang memiliki pinjaman KUR.
“Dalam beberapa hari ke depan, kami juga akan melaksanakan sosialisasi masalah pinjaman KUR (Kredit Usaha Rakyat) kepada masyarakat, baik pinjaman yang 0 persen, 3 persen, 6 persen, dan seterusnya,” ucap Azis.
Ramadan di Aceh Tamiang tahun ini menjadi lebih dari sekadar bulan penuh berkah. Di tengah aroma lincah mameh dan gorengan hangat, terselip kisah keteguhan warga yang menolak menyerah pada bencana.




