Pentingnya Melestarikan Bahasa Ibu di Hari Bahasa Ibu Internasional
Sumber Foto: RRI.co.id
Internasional

Pentingnya Melestarikan Bahasa Ibu di Hari Bahasa Ibu Internasional

RRI.CO.ID, Langgur - Dunia memperingati Hari Bahasa Ibu Internasional setiap tanggal 21 Februari sebagai upaya global untuk melestarikan keberagaman linguistik. Penetapan tanggal ini merupakan bentuk penghormatan terhadap sejarah perjuangan rakyat Bangladesh pada tahun 1952. Kala itu, terjadi peristiwa tragis di Dhaka di mana sejumlah orang kehilangan nyawa demi mempertahankan bahasa Bangli sebagai identitas mereka. Momentum heroik tersebut kemudian menjadi dasar kuat bagi dunia untuk memberikan pengakuan terhadap hak setiap bangsa dalam menjaga bahasa aslinya.

Dilansir dari berbagai sumber, gagasan mengenai peringatan ini pertama kali dicetuskan oleh Rafiqul Islam, seorang warga negara Bangladesh yang menetap di Kanada. Pada 9 Januari 1998, ia mengirimkan surat kepada Sekretaris Jenderal PBB saat itu, Kofi Annan, untuk meminta langkah nyata dalam menyelamatkan bahasa-bahasa di dunia dari kepunahan. Usulan ini membuahkan hasil hingga akhirnya Majelis Umum PBB secara resmi meminta negara-negara anggotanya untuk mempromosikan seluruh bahasa di dunia guna memperkuat persatuan dalam keanekaragaman serta pemahaman internasional melalui multibahasa dan multikulturalisme.

Secara definisi, bahasa ibu adalah bahasa pertama yang diperoleh dan dikuasai oleh seorang anak sejak lahir. Bahasa ini merupakan fondasi komunikasi awal yang membentuk pola pikir seseorang, terlepas dari apakah itu bahasa daerah, bahasa nasional, maupun bahasa internasional seperti bahasa Inggris. Di banyak belahan dunia, bahasa ibu sering kali merupakan bahasa daerah yang diwariskan secara turun-temurun di lingkungan keluarga, yang menjadi identitas paling mendasar bagi seorang individu.

Meskipun demikian, penguasaan bahasa pertama sangat bergantung pada lingkungan, pola asuh, dan kepentingan pendidikan di mana anak tersebut tumbuh. Tidak menutup kemungkinan bahasa nasional atau bahasa internasional menjadi bahasa ibu jika hal itulah yang diajarkan pertama kali. Melalui peringatan ini, masyarakat dunia diingatkan kembali bahwa menjaga bahasa ibu bukan sekadar masalah komunikasi, melainkan upaya menjaga kekayaan budaya dan jati diri manusia dari ancaman kepunahan di era globalisasi.