Imunoterapi: Solusi Baru untuk Kanker Paru di Usia Produktif
Agenda Nasional - JAKARTA – Konsultan senior onkologi medis dari Parkway Cancer Centre (PCC) Singapura, Dr. Tanujaa Rajasekaran, menyoroti perubahan pola kasus kanker paru yang kini kian banyak ditemukan pada kelompok usia produktif. Menurutnya, pendekatan imunoterapi menjadi salah satu strategi pengobatan yang mampu memperbaiki peluang ketahanan hidup secara bermakna.
Dalam forum diskusi bertajuk “ Pergeseran Demografi Kanker di Indonesia: Kanker Paru pada Usia Produktif ” di Jakarta, Kamis (25/2/2026), ia menjelaskan bahwa terapi yang dipersonalisasi membantu dokter menentukan pilihan pengobatan yang lebih efektif sekaligus lebih dapat ditoleransi pasien. Hal ini penting terutama bagi individu yang tetap harus menjalankan peran profesional dan tanggung jawab keluarga selama menjalani terapi.
Ia juga menekankan bahwa kanker paru tidak lagi identik dengan lansia atau perokok berat. Saat ini, diagnosis semakin sering ditegakkan pada kelompok usia 30–40 tahun, termasuk mereka yang tidak memiliki riwayat merokok dan sebelumnya merasa sehat serta aktif.
Imunoterapi bekerja dengan mengoptimalkan sistem kekebalan tubuh agar mampu mengenali dan menyerang sel kanker. Pendekatan ini dapat diberikan kepada pasien berusia 30–50 tahun, baik perokok aktif maupun bukan perokok.
Untuk kanker stadium awal (1–3), imunoterapi umumnya diberikan selama kurang lebih satu tahun guna menurunkan risiko kekambuhan. Sementara pada stadium 4 atau kondisi metastatik, terapi dapat berlangsung jangka panjang selama penyakit masih menunjukkan respons terhadap pengobatan. Jika respons menurun, dokter akan mempertimbangkan opsi terapi lain.




