Indonesia Dukung Dewan Perdamaian, Apa Itu Board of Peace?
Dunia politik internasional kembali mengalami dinamika signifikan dengan kemunculan Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian, sebuah inisiatif yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat ke-47, Donald Trump. Forum ini bertujuan untuk menciptakan stabilitas global, terutama di kawasan yang sedang mengalami konflik, seperti Gaza. Meskipun Trump mengklaim bahwa BoP adalah solusi masa depan untuk perdamaian, jalannya inisiatif ini tidak semulus yang diharapkan.
Saat ini, lebih dari 25 negara telah menyatakan bergabung dengan BoP, meskipun terdapat penolakan kuat dari negara-negara sekutu tradisional Amerika di Eropa. Fenomena ini mencerminkan ketegangan politik yang semakin meningkat dan perpecahan prinsipil di arena internasional.
Apa Itu Board of Peace?
Board of Peace merupakan organisasi internasional non-pemerintah yang berfokus pada percepatan perdamaian dan rekonstruksi di wilayah konflik. Berbeda dengan lembaga multilateral seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), BoP dirancang untuk lebih responsif dan transaksional, dengan penekanan pada kerja sama ekonomi dan pembangunan infrastruktur.
Namun, struktur BoP menimbulkan berbagai kontroversi. Dalam piagam pendiriannya, Trump ditetapkan sebagai Ketua seumur hidup, memberikan otoritas mutlak untuk mengundang atau membatalkan keanggotaan negara lain. Model kepemimpinan ini dianggap tidak lazim untuk sebuah organisasi yang mengklaim membawa agenda perdamaian dunia, dan menimbulkan kekhawatiran tentang masa depan tatanan internasional yang berbasis pada aturan hukum.
Penolakan dari Eropa
Beberapa negara besar di Eropa, termasuk Prancis, Inggris, Jerman, Spanyol, dan Italia, secara terbuka menolak untuk bergabung dengan BoP. Mereka menganggap bahwa dewan ini memiliki masalah legitimasi dan beroperasi di luar kerangka PBB. Prancis mencatat bahwa struktur BoP terlalu sentralistik dan jauh dari semangat Piagam PBB yang seharusnya mendukung kolaborasi multilateral.
Selain itu, Inggris mengkhawatirkan potensi keterlibatan Rusia, khususnya Presiden Vladimir Putin, dalam organisasi ini, terutama terkait dengan konflik di Ukraina. Penolakan juga datang dari negara-negara Nordik seperti Norwegia, Swedia, Slovenia, dan Yunani, yang menilai mandat BoP terlalu luas dan dapat merusak tatanan internasional yang ada.
Salah satu peristiwa menarik dalam perkembangan BoP adalah keputusan Kanada yang awalnya menyatakan kesediaan untuk bergabung, tetapi kemudian dibatalkan secara sepihak oleh Trump. Pembatalan ini terjadi setelah Kanada mengkritik Trump di acara World Economic Forum, menunjukkan betapa dinamisnya politik di balik inisiatif ini.
Negara-Negara Anggota Board of Peace
Meski menghadapi penolakan dari banyak negara Barat, Board of Peace berhasil menarik perhatian negara-negara dari berbagai belahan dunia. Berikut adalah beberapa negara yang telah menyatakan bergabung dengan BoP:
- Indonesia
- Turki
- Arab Saudi
- UAE
- Qatar
- Pakistan
- Bangladesh
Melihat komposisi tersebut, terlihat bahwa BoP lebih banyak menarik minat negara-negara di kawasan Timur Tengah dan Asia. Namun, tanpa dukungan dari blok Eropa Barat dan Nordik, BoP menghadapi tantangan besar untuk diakui sebagai otoritas perdamaian yang sah di mata komunitas internasional.
Langkah Trump melalui BoP kembali memicu perdebatan mengenai efektivitas pendekatan baru ini dalam mencapai perdamaian, serta dampaknya terhadap sistem multilateral yang telah ada.




