JOMO: Gaya Hidup Bahagia Tanpa Tekanan Media Sosial bagi Mahasiswa
Agenda Nasional - RRI.CO.ID, Semarang - Konsep Joy of Missing Out atau JOMO viral dan menjadi tren yang diminati kalangan muda. Latifa dan Diani, mahasiswa dari Universitas Semarang membahasnya dalam program Sore Ceria PRO 2 Semarang (16/02/26).
JOMO merupakan sikap menikmati hidup tanpa harus mengikuti semua tren media sosial. Konsep ini hadir sebagai respons terhadap fenomena FOMO yang marak di kalangan mahasiswa.
Dalam dialog tersebut, Latifa menjelaskan JOMO berarti menerima diri tanpa tekanan pembanding. “Sebenarnya bahagia itu mudah, gak harus ikut semua yang viral,” ujarnya.
Ia menilai mahasiswa sering terdorong mengikuti tren demi validasi sosial. Padahal, kebahagiaan bisa muncul dari aktivitas sederhana yang dekat dengan keseharian.
Diani menambahkan media sosial kerap memicu rasa lelah mental jika dikonsumsi berlebihan. “Kadang berita di media sosial bikin males dan capek sendiri,” katanya.
Bagaimana JOMO diterapkan dilakukan melalui pembatasan akses media sosial. Keduanya mengaku pernah melakukan detox digital agar lebih fokus pada kuliah.
Langkah tersebut dinilai membantu menjaga konsentrasi dan kestabilan emosi mahasiswa. Mereka juga mengurangi kebiasaan membandingkan pencapaian pribadi dengan unggahan orang lain.
JOMO juga berarti berani menolak tekanan tren yang tidak relevan. Mahasiswa dapat memilih aktivitas sesuai minat tanpa merasa tertinggal arus popularitas.
Menurut Latifa, identitas diri tidak perlu selalu ditampilkan demi pengakuan publik. Ia memilih membatasi unggahan agar tidak terjebak ekspektasi sosial digital.
Dialog ini menegaskan JOMO sebagai alternatif sehat menghadapi era digital. Mahasiswa diharapkan mampu memilah informasi dan membangun kebahagiaan versi sendiri.




