Ngabuburit Bugis-Makassar: Tradisi Sore Ramadan yang Adaptif
Sumber Foto: Chanel Sulsel
Lifestyle

Ngabuburit Bugis-Makassar: Tradisi Sore Ramadan yang Adaptif

CHANELSULSEL.COM - Ngabuburit ala Bugis–Makassar selalu punya ciri khas. Bukan sekadar menunggu azan magrib, tetapi tentang cara masyarakat mengisi sore Ramadan dengan kebersamaan.

Dari kampung hingga pusat kota Makassar, ngabuburit menjadi potret bagaimana tradisi lama beradaptasi dengan gaya hidup masa kini—tetap hidup, meski wujudnya berubah.

Menunggu Waktu Berbuka dengan Nilai Sipakatau

Dalam budaya Bugis, nilai sipakatau saling memanusiakan menjadi fondasi kehidupan sosial. Dulu, ngabuburit dijalani dengan cara sederhana: duduk di teras rumah, menyapa tetangga, atau berbincang ringan sambil menahan lapar.

Menunggu magrib bukan sekadar aktivitas pengisi waktu, melainkan pengalaman bersama. Kebersamaan membuat rasa lapar terasa lebih ringan, dan sore Ramadan dijalani tanpa tergesa-gesa.

Dari Teras Rumah ke Warkop, Tradisi yang Bergeser

Perubahan ritme hidup membawa perubahan cara ngabuburit. Kini, ruang-ruang publik seperti warkop dan pusat keramaian menjadi pilihan. Nongkrong, berburu takjil, hingga bertemu teman lama menjadi bagian dari ngabuburit modern.

Meski tampil lebih dinamis, esensi kebersamaan tetap terasa. Ngabuburit menjadi ruang sosial untuk menjaga silaturahmi nilai yang tetap dijunjung tinggi oleh masyarakat Bugis Makassar.

Berburu Takjil dan Semangat Pacce

Aktivitas mencari takjil menjadi bagian tak terpisahkan dari ngabuburit. Deretan jajanan Ramadan bermunculan menjelang magrib. Namun, bagi warga Bugis Makassar, ini bukan sekadar urusan makanan.

Ada nilai pacce empati dan kepedulian yang hadir. Membeli dari pedagang kecil, membawa pulang untuk keluarga, atau berbagi dengan tetangga menjadi wujud kepedulian sosial yang sederhana namun bermakna.

Puasa, Siri’, dan Pengendalian Diri