Penerapan Gaya Hidup Sehat Kunci Pencegahan Kanker, Kata Guru Besar Poltekkes
Sleman, InfoPublik – Guru Besar Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Yogyakarta, Tri Siswati, menegaskan penerapan gaya hidup sehat merupakan strategi fundamental dalam upaya pencegahan kanker di masyarakat.
Pernyataan itu disampaikan Tri Siswati dalam seminar awam Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) yang digelar Persatuan Promotor dan Pendidik Kesehatan Masyarakat Indonesia (PPPKMI) Kabupaten Sleman, di Pendhapa Rumah Dinas Bupati Sleman, Rabu (11/2/2026).
Seminar dengan tema “Bersatu dalam Keunikan, Bergerak untuk Kesadaran Kanker dan Harapan yang Lebih Baik” tersebut diselenggarakan dalam rangka HUT ke-38 PPPKMI Kabupaten Sleman.
Tri Siswati menyatakan, kanker merupakan penyakit tidak menular yang prevalensinya terus meningkat, namun sebagian besar faktor risikonya dapat dikendalikan melalui perubahan perilaku.
Menurutnya, gaya hidup tidak sehat seperti konsumsi makanan tinggi lemak dan gula, kurang aktivitas fisik, merokok, serta paparan zat karsinogenik menjadi determinan utama meningkatnya risiko kanker. Oleh karena itu, pendekatan promotif dan preventif melalui GERMAS harus diperkuat secara sistematis dan berkelanjutan.
“Pencegahan kanker tidak hanya bertumpu pada layanan kuratif di rumah sakit, tetapi dimulai dari rumah tangga, sekolah, dan lingkungan kerja melalui pembiasaan perilaku hidup sehat,” ujar Tri Siswati di hadapan peserta seminar.
Ia memaparkan bahwa pola makan seimbang berbasis gizi, konsumsi sayur dan buah yang cukup, serta pembatasan makanan ultra-proses berkontribusi signifikan dalam menurunkan risiko kanker.
Selain itu, aktivitas fisik minimal 30 menit per hari dinilai mampu meningkatkan imunitas dan menjaga keseimbangan metabolik tubuh.
Tri juga menyoroti pentingnya deteksi dini sebagai bagian integral dari upaya pencegahan.
Skrining kanker serviks, payudara, dan kolorektal, misalnya, dinilai efektif menurunkan angka kematian apabila dilakukan secara rutin dan tepat sasaran.
Ia mengajak masyarakat tidak menunda pemeriksaan kesehatan sebagai bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri dan keluarga.
Dalam konteks kesehatan masyarakat, ia menekankan pentingnya literasi kesehatan yang memadai agar masyarakat mampu memilah informasi yang benar terkait kanker.
Edukasi berbasis bukti ilmiah harus menjadi rujukan utama dalam pengambilan keputusan kesehatan sehingga masyarakat tidak terjebak pada mitos atau klaim yang tidak terverifikasi.
Lebih lanjut, Tri Siswati menegaskan bahwa upaya pencegahan kanker memerlukan kolaborasi lintas sektor.
Pemerintah daerah, organisasi profesi, institusi pendidikan, hingga komunitas masyarakat perlu bersinergi membangun ekosistem yang mendukung gaya hidup sehat, termasuk penyediaan ruang terbuka hijau, fasilitas olahraga, dan akses pangan bergizi.
Seminar tersebut juga menjadi momentum refleksi bagi Promotor dan Pendidik Kesehatan Masyarakat Kabupaten Sleman dalam menguatkan peran promosi kesehatan di tingkat lokal.
“Harapan terhadap penurunan kasus kanker akan terwujud apabila setiap individu mengambil peran aktif dalam menjaga kesehatannya. Bergerak bersama dalam keberagaman adalah fondasi menuju generasi yang lebih sehat dan berdaya,” pungkasnya.(Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




