Tahbisan Imamat RD. Gregorius Helyanan Perkuat Harmoni Sosial di Maluku Tenggara
Sumber Foto: RRI.co.id
Sosial

Tahbisan Imamat RD. Gregorius Helyanan Perkuat Harmoni Sosial di Maluku Tenggara

RRI.CO.ID, Langgur - Perayaan syukur Tahbisan Imamat dan Misa Perdana RD. Gregorius Helyanan digelar sebagai peneguhan panggilan pelayanan sekaligus penguatan peran Gereja dalam kehidupan sosial masyarakat Kei. Momentum ini dimaknai sebagai investasi spiritual jangka panjang bagi pembinaan iman, persaudaraan, dan nilai kemanusiaan di Maluku Tenggara, Jumat (20/2/2026).

Mewakili Bupati Maluku Tenggara, Wakil Bupati Charlos Viali Rahantoknam hadir dan menyampaikan komitmen pemerintah daerah dalam mendukung pelayanan keagamaan yang inklusif dan berkelanjutan. Ia menegaskan tahbisan imamat bukan sekadar peristiwa gerejawi, melainkan bagian dari pembangunan karakter masyarakat.

“Tahbisan ini memiliki tujuan luhur, yakni melahirkan pelayan umat yang memperkuat nilai moral, persatuan, dan kepedulian sosial di Maluku Tenggara,” ujar Viali.

Perayaan syukur tersebut berlangsung pada Jumat, 13 Februari 2026, di Ohoi Ngefuit Atas, kampung asal imam yang baru ditahbiskan. Ratusan umat dari berbagai paroki hadir sebagai wujud dukungan atas panggilan hidup imamat yang berakar pada komunitas lokal.

RD. Gregorius Helyanan memimpin Misa Perdana dengan menekankan semangat pelayanan, kerendahan hati, dan kesediaan untuk hadir bagi semua lapisan masyarakat. Tujuan utama perayaan ini diarahkan pada penguatan kesadaran bahwa imam dipanggil untuk melayani, bukan dilayani.

Pemerintah daerah berharap tahbisan ini melahirkan figur rohani yang mampu menjadi jembatan dialog, penjaga nilai kemanusiaan, serta mitra strategis dalam merawat harmoni sosial. Harapan tersebut sejalan dengan peran imam sebagai pelayan umat yang hadir di tengah keberagaman masyarakat Maluku Tenggara.

“Imam diharapkan hadir sebagai sumber pengharapan dan perekat persaudaraan di tengah masyarakat yang majemuk,” kata Viali.

Selain dimensi spiritual, perayaan ini juga dimaksudkan untuk meneguhkan kolaborasi antara Gereja, pemerintah, dan masyarakat adat dalam menjaga kerukunan. Sinergi tersebut dipandang strategis agar nilai iman dapat terwujud nyata dalam kehidupan sosial, pendidikan, dan pelayanan kemanusiaan di Maluku Tenggara.